Tatanan moral bangsa kita kelihatannya semakin hari semakin terkoyak-koyak oleh berbagai peristiwa kekerasan, intoleransi, dan dehumanisasi yang tiada akhirnya. Drama demi drama kekerasan, pembantaian, dan pengorbanan manusia terjadi begitu saja tanpa pernah sedikit pun mengusik nurani bangsa ini. “Bangsa yang sedang sakit jiwa”, mengutip pendapat Amien Rais. Bangsa yang sedang tenggelam ke dalam lembah teror dan jurang immoralitas yang paling rendah.
Pengamat politik Burhanudin Muhtadi, “bangsa Indonesia memang semakin sholeh, tetapi juga semakin tidak menoleh”. Afirmasi harus kita berikan terhadap statement tersebut, sudah bukan rahasia lagi jika bangsa kita secara kuantitas rohani sudah semakin baik. Terbukti dari banyaknya pembangunan rumah ibadah, membludaknya tayangan-tayangan keagamaan di televisi lengkap dengan syiar dan dakwahnya, jilbab yang sudah mulai banyak dikenakan oleh perempuan-perempuan muslim, serta menjamurnya organisasi-organisasi keagamaan di Indonesia.
Akan tetapi, mengapa yang terjadi adalah intoleransi? Apakah degradasi moral bangsa kita sudah sedemikian parahnya, sehingga walaupun kualitas keagamaannya meningkat, tetapi kualitas kemanusiaannya semakin pudar? Atas nama agama, banyak oknum yang juga mengaku beragama, melakukan kekerasan terhadap sesama makhluk Tuhan, hanya karena mereka tidak sealiran. Hanya karena mereka dianggap menyimpang, dan hanya karena mereka dianggap “berbeda”. Padahal, apalah arti perbedaan itu di Indonesia? Bukankah kita adalah negara yang ber-Bhineka Tunggal Ika, dimana walaupun kita berbeda-beda, tetapi tetap satu jua?
(http://politikana.com/)
Ribuan Warga Yogyakarta Peringati Harkitnas
Metrotvnews.com, Yogyakarta: Hari Kebangkitan Nasional diperingati ribuan warga Yogyakarta dalam aksi jalan kaki dan doa bersama. Aksi yang dilakukan Forum Persaudaraan Umat Beragama itu digelar di Monumen Yogya Kembali, Kamis (19/5).
Warga menilai gejolak sosial kemasyarakatan di Yogyakarta dan Indonesia umumnya terjadi karena rusaknya tata kehidupan sosial, politik dan kebudayaan bangsa. Penyebabnya adalah degradasi moral dan etika dari berbagai lapisan masyarakat.
(http://metrotvnews.com/)
Meski "Hilang", Pancasila Tetap Relevan
Penanaman ideologi Pancasila di dunia pendidikan sama saja jika melihat pendidikan karakter. Tidak hanya pendidikan yang tidak hanya harus tahu, tetapi juga harus bersikap dan mengamalkannya.
(http://edukasi.kompas.com/)
Pengamat politik Burhanudin Muhtadi, “bangsa Indonesia memang semakin sholeh, tetapi juga semakin tidak menoleh”. Afirmasi harus kita berikan terhadap statement tersebut, sudah bukan rahasia lagi jika bangsa kita secara kuantitas rohani sudah semakin baik. Terbukti dari banyaknya pembangunan rumah ibadah, membludaknya tayangan-tayangan keagamaan di televisi lengkap dengan syiar dan dakwahnya, jilbab yang sudah mulai banyak dikenakan oleh perempuan-perempuan muslim, serta menjamurnya organisasi-organisasi keagamaan di Indonesia.
Akan tetapi, mengapa yang terjadi adalah intoleransi? Apakah degradasi moral bangsa kita sudah sedemikian parahnya, sehingga walaupun kualitas keagamaannya meningkat, tetapi kualitas kemanusiaannya semakin pudar? Atas nama agama, banyak oknum yang juga mengaku beragama, melakukan kekerasan terhadap sesama makhluk Tuhan, hanya karena mereka tidak sealiran. Hanya karena mereka dianggap menyimpang, dan hanya karena mereka dianggap “berbeda”. Padahal, apalah arti perbedaan itu di Indonesia? Bukankah kita adalah negara yang ber-Bhineka Tunggal Ika, dimana walaupun kita berbeda-beda, tetapi tetap satu jua?
(http://politikana.com/)
Ribuan Warga Yogyakarta Peringati Harkitnas
Metrotvnews.com, Yogyakarta: Hari Kebangkitan Nasional diperingati ribuan warga Yogyakarta dalam aksi jalan kaki dan doa bersama. Aksi yang dilakukan Forum Persaudaraan Umat Beragama itu digelar di Monumen Yogya Kembali, Kamis (19/5).
Warga menilai gejolak sosial kemasyarakatan di Yogyakarta dan Indonesia umumnya terjadi karena rusaknya tata kehidupan sosial, politik dan kebudayaan bangsa. Penyebabnya adalah degradasi moral dan etika dari berbagai lapisan masyarakat.
(http://metrotvnews.com/)
Meski "Hilang", Pancasila Tetap Relevan
Penanaman ideologi Pancasila di dunia pendidikan sama saja jika melihat pendidikan karakter. Tidak hanya pendidikan yang tidak hanya harus tahu, tetapi juga harus bersikap dan mengamalkannya.
(http://edukasi.kompas.com/)
Pesan Tersirat :

0 komentar :
Post a Comment