Showing posts with label Nasionalisme. Show all posts
Showing posts with label Nasionalisme. Show all posts

Pencipta Lagu Anak-anak Indonesia


Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri

Ibu Soed (Arsip mestimoco.com)
Jika mendengan nama Saridjah Niun Soedibyo kelahiran Sukabumi, kebanyakan orang tidak akan mengenal nama ini. Wanita yang terlahir pada tanggal 28 Maret 1908 di Sukabumi, Jawa Barat ini sebenarnya adalah pencipta lagu anak-anak yang legendaris. Dia telah menciptakan ratusan lagu anak-anak. Tokh musik tiga jaman ini (Belanda, Jepang dan Indonesia) lebih dikenal dengan nama Ibu Soed. Ia pertama kali memperdengarkan suaranya melalui radio NIROM Jakarta pada tahun 1927

Ia ikut mengiringi lagu Indonesia Raya ketika pertama kali dilantunkan di  Gedung Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Dia bertindak sebagai pemusik biola.

Ibu Soed yang memiliki nama asli Saridjah, anak bungsu dari dua belas orang bersaudara, putri pelaut berdarah Bugis Mohamad Niung, yang menetap di Sukabumi, Jawa Barat kemudian pelaut ini menjadi pengawal Prof. Dr. Mr. J.F. Kramer, seorang indo-Belanda yang kemudian menjadikan Saridjah menjadi anak asuhnya. Di bawah pengasuhan sang ayah angkat, Saridjah  mendapat pendidikan seni suara, seni musik dan belajar menggesek biola.

Setelah   menamatkan pendidikan di Kweekschool,  Bandung,  Saridjah mengajar di beberapa HIS antara lain HIS Petojo, HIS Jalan Kartini, dan HIS Arjuna (1925-1941). Dia prihatin melihat anak-anak  Indonesia yang tampak kurang berbahagia. Lalu dia berpikir untuk  menyenangkan anak-anak itu dengan menyanyi. Dia pun berpikir  sebaiknya anak-anak Indonesia itu dapat menyanyi dalam bahasa Indonesia.Maka, dia pun mulai mencipta lagu  untuk anak-anak Indonesia.

Lagu-lagu ciptaannya, tidak hanya  memberi kegembiraan kepada anak-anak, tetapi juga mendorong mereka  berkhayal, berimajinasi menjadi anak bangsa yang kelak berbakti dan  mencipta untuk kejayaan bangsanya. Selain menciptakan sejumlah lagu  kanak-kanak berirama ceria, antara lain Hai Becak, Ketilang, Kupu-kupu,  dan Bila Aku Besar, juga lagu ceria patriotik seperti Tanah Airku dan  Berkibarlah Benderaku.
Berkibarlah Benderaku diciptakan setelah  dia melihat kegigihan Yusuf Ronodipuro, seorang pimpinan RRI pada  tahun-tahun pertama Indonesia merdeka. Yusuf menolak menurunkan Sang  Saka Merah Putih yang sedang berkibar di kantornya, walaupun dalam  ancaman senjata api.

Semangat cinta tanah air juga terukir sangat dalam di lagu Tanah Airku:


 Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan


Lebih  dari 200 lagu telah dia ciptakan. Di tengah kesibukannya mengajar dan mencipta lagu, ia juga pernah menulis naskah sandiwara dan sekaligus mementaskannya. Yakni  Operette Ballet Kanak-kanak Sumi di Gedung Kesenian, Jakarta, 1955. Nani Loebis Gondosapoetro sebagai penata tari  dan RAJ Soedjasmin sebagai penata musik.
Selain itu, saat aktif sebagai anggota organisasi Indonesia Muda tahun 1926, ia juga membentuk grup Tonil Amatir. Hasilnya, lebih dari cukup. Selain aktivitasnya tidak hanya menonjol sebagai guru dan aktivis organisasi pemuda, tetapi juga berperan dalam berbagai siaran radio sebagai pengasuh siaran anak-anak (1927-1962). Bahkan, ia juga piawai membatik. Sejak menikah namanya lebih dikenal dengan Ibu Soed.


Pesan Tersirat : Dunia anak adalah dunia kejujuran dan saat yang tepat menanamkan jiwa patriotisme dan Cinta tanah air

Check
dumber : tokohindonesia.com
Dapatkan informasi lain di web
Read More … Pencipta Lagu Anak-anak Indonesia

Agamanisasi Politik

Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri

Copas dari tulisan : Yusak Manuputty
Agamaisasi Politik

Memanfaatkan agama untuk meraih kekuasaan memang selalu “trend” di Indonesia. Lihatlah bagaimana politisi menggunakan “gelar Haji” atau “gelar Hajjah” untuk membangun citra sebagai politisi saleh.

Lihat pula bagaimana politisi saat kampanye, mereka selalu mengajak tokoh-tokoh agama dengan “gelar Kyai” atau “Ustad” untuk menjadi bagian dari tim sukses atau sebagai juru kampanye.

Bahkan demi berdirinya Khalifah di Indonesia, mereka membentuk organisasi masyarakat (Ormas) yang secara terbuka mendukung “agamaisasi politik”, meskipun klasifikasinya bisa lebih diperinci namun benang merah dari agenda mereka dapat dikatakan sama.

Ormas-ormas itu antara lain: Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI), Laskar Jihad Ahlussunnah Waljamaah, Gerakan Islam Reformis (GARIS), Forum Komunikasi Muslim Indonesia (Forkami), Jama'ah Anshorut Tauhid (JAT), Laskar Mujahidin dan masih banyak lagi.

Tujuan ormas-ormas diatas adalah kaderisasi, indoktrinasi dan rasionalisasi mengenai Khalifah sekaligu sepaket dengan Syariah Islam sebagai satu-satunya solusi untuk menjawab carut marut yang mendera bangsa ini. Mereka sangat percaya Syariah Islam dan Khilaffah adalah tatanan ideal bagi bangsa Indonesia untuk meraih kesejahteraan dan keadilan.

Agamaisasi Politik Gagal Total

Namun, agenda Agamaisasi politik di Indonesia yang diduga berkoalisi dengann organisasi Islam transnasional seperti Ihwanul Muslimin, Tandhimul Jihad, dan paham Wahabi ini ternyata Gagal Total.

Kegagalan agenda tersebut dikarenakan mayoritas Islam di Indonesia menolak wacana Islamisasi Politik, mereka sudah nyaman dengan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Menurut Islam Pancasilais, problem bangsa ini solusinya bukan mengganti ideology, melainkan revitalisasi Pancasila.

Walau agenda Islamisasi Politik ini gagal total pada level Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, kegigihan mereka berbuah manis melalui peraturan daerah (perda). Keberhasilan ini dikarenakan politisi daerah masih percaya bahwa Politisasi agama sangat menguntungkan bagi mereka.

Hasilnya kita bisa lihat, perda-perda bernuansa syariah Islam itu pun gagal total, karena bagi para politisi, yang penting meraih kekuasaan, soal apakah perda-perda itu efektif, rata-rata mereka tidak peduli, bagi kepala daerah yang penting bagi-bagi hasil proyek jalan terus, mengenai perda syariah itu hanya topeng belaka.

Maka, Agamaisasi politik sesungguhnya hanya memanfaatkan umat demi kepentingan politisi, tidak ada yang murni bertujuan sesuai dengan keluhuran Islam, bagi politisi di Indonesia yang penting hanya satu hal, Uang,

- YM -

Pesan Tersirat :

Check

Dapatkan informasi lain di web
Read More … Agamanisasi Politik

Dukung Voting KOMODO


Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri

Dukungan masyarakat untuk memenangkan komodo sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia baru (New 7 Wonder) makin meluas. Keterlibatan artis dan sejumlah pengusaha dalam kampanye penggalangan dukungan membuat vote untuk komodo melonjak tajam.
  
Tetapi tahukah anda kita kalah oleh sekedar kadal air malaysia? Ayo vote.. dukung agar bangsa ini masih memiliki kebanggaan
 
Info : PEROLEHAN SEMENTARA VOTE NEW7WONDERS (5 Besar) :
 
1. KADAL AIR (MALAYSIA)
- 46.643.507 suara sms
 
2. GAJAH HITAM (THAILAND)
- 43.976.151 suara sms
 
3. PULAU KOMODO (INDONESIA)
- 40.421.843 suara sms
 
4. BURUNG DEIL (AFRIKA)
- 34.800.619 suara sms
 
5. IKAN STEDDO (NEW ZEALAND)
- 27.617.994 suara/sms
 
Ayo Vote PULAU KOMODO..
Caranya : Ketik KOMODO kirim sms ke 9818. Saat ini sdh GRATIS sms utk semua Operator Seluler.
 
Penduduk Indonesia 240 juta. Hanya 1 org 1 sms saja kita sdh menang.
 
- Batas waktu tgl 11 Nov 2011
KURANG .09. Hari lagi . 
vote dan sebarkan


Pesan Tersirat :

Check

Dapatkan informasi lain di web
Read More … Dukung Voting KOMODO

INDONESIA WILL RULE THE WORLD!!


Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri
catatan dari seorang kawan di FB  Rizkyan
Nasionalis.kabmalang
::repost::
Dr tmn yg tgl di Ausi.
Suatu pagi,kami menjemput seseorg klien di bandara. Org itu sdh tua, kisaran 60 thn. Si Bpk adl pengusaha asal Singapura, dgn logat bicara gaya melayu&english,beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kpd kami yg msh muda.
Beliau berkata,"Ur country is so rich!"
Ah biasa banget denger kata2 itu. Tapi tunggu dulu."Indonesia doesn't need the world,but the world needs Indonesia,"lanjutnya. "Everything can be found here in Indonesia,U don't need the world."
"Mudah saja,Indonesia paru2 dunia.Tebang saja hutan di kalimantan,dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia! Singapura is nothing, we can't be rich without Indonesia 500.000 org Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan.Bisa terbayang uang yg masuk ke kami,apartemen2 terbaru kami yg beli org2 Indonesia,ga peduli harga selangit, laku keras.Lihatlah RS kami, org Indonesia semua yg berobat.Trus, kalian tau bgmna kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk?Ya, bener2 panik. Sangat terasa, we are nothing. Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia krisis beras.Termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dgn mudah dpt beras. Liatlah negara kalian, air bersih di mana2, liatlah negara kami,air bersih pun kami beli dari Malaysia.
Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis, krn pasirnya mengandung permata. Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3rb/kg ke pabrik china, si pabrik jual kembali seharga Rp 30rb/kg.Saya liat ini sbg peluang. Kalian sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut meng-embargo Indonesia!
Ya,karena negara kalian memiliki segalanya.Mereka takut kalau kalian mnjadi mandiri,makanya tidak di embargo.
Harusnya KALIANLAH YG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah pangan dr petani2 kita sendiri,belilah tekstil garmen dr pabrik2 sendiri.Tak perlu impor klo bs produk sendiri.
Jika kalian bs mandiri,bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULE THE WORLD!!


Pesan Tersirat :Kadang kita sibuk memikirkan dunia lain dan melupakan yang ada disekitar kita

Check

Dapatkan informasi lain di web
Read More … INDONESIA WILL RULE THE WORLD!!

Berpulangnya Seorang Veteran


Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri
Hari rabu tanggal 12 Oktober pukul 07.00, seorang veteran telah berpulang ke Haribaan-Nya. Veteran ini dilahirkan pada tanggal 21 September tahun 1921 di sebuah desa Benculuk di Kabupaten Banyuwangi, Kota di ujung timur dari pulau jawa.
Soetjipto kecil dibesarkan dalam suasana penjajahan di desa kecil yang subur, dia tumbuh berkembang dalam suasana pedesaan yang sarat dengan kehidupan keagamaan. Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Rakyat dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Meer Uitgebreid Lager Onderwijs artinya "Pendidikan Dasar Lebih Luas". MULO menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.
Selanjutnya remaja ini menuju kota Surabaya untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Di Surabaya selain bekerja juga ikut serta dalam pergerakan para pemuda Indonesia.
Setelah Perang Kemerdekaan Soetjipto pulang kampung dan bekerja di Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT) yang kemudian pada tahun 1955 dipindahkan ke Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang dan setelah di tugaskan di Kantor Pos Kota Sampang Madura kembali bertugas di Kota Malang hingga Pensiun
Pada masa pensiunnya Veteran Golongan "A" yang dimulai tahun 1978 Soetjipto banyak sekali menulis dengan menggunakan mesin ketik yang isinya tentang pelajaran bahasa Jawa, Berhitung dan berbagai pengetahuan umum sederhana yang diberikan kepada anak-anak usia Sekolah Dasar.
Soetjipto meninggalkan Istri dan 4 Orang Anak dalam usia yang cukup panjang untuk umumnya masyarakat yaitu 90 tahun dengan beberapa buah buku ketikkan yang banyak sekali memberikan kenangan bagi keluarga dan lingkungan utamanya mereka yang pernah memperoleh manfaat dari buah pikirannya.bahkan beberapa adalah bapak dan anak, mengingat usianya yang cukup panjang sehingga disaat seorang anak beranjak dewasa dan memiliki keturunan sehingga anaknyapun mendapat pembelajaran dari buku-buku yang ditulisnya.
Read More … Berpulangnya Seorang Veteran

HOS Tjokroaminoto

Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri 



HOS Tjokroaminoto merupakan salah satu pahlawan pergerakan nasional. Beliau adalah pemimpin organisasi Sarekat Islam (SI) yang pada awalnya bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Beliau bergabung dengan SI pada bulan Mei 1912. Ia banyak berjasa dalam meningkatkan kesadaran dan nasionalisme Bangsa Indonesia. Kiprahnya di Sarekat Islam juga banyak mengilhami generasi sesudahnya. Selain mengobarkan semangat kebangsaan, ia juga berjuang meningkatkan harkat dan martabat kaum pribumi di bidang perekonomian.
HOS Tjokroaminoto banyak melakukan pengkaderan terhadap generasi muda, sehingga muncullah nama-nama tokoh seperti Soekarno (berhaluan nasionalis), Muso (berhaluan komunis), Kartosuwiryo (berhaluan Islam garis keras). Pada perkembangan selanjutnya, Muso menjadi otak dari pemberontakan PKI di Madiun, dan Kartosuwiryo menjadi pelopor gerakan DI/TII yang ingin membentuk Negara Islam Indonesia.
Tjokroaminoto mempunyai keyakinan yang teguh, bahwa negara dan bangsa kita tak akan mencapai kehidupan jang adil dan makmur, pergaulan hidup jang aman dan tenteram, selama keadilan sosial belum dapat berlaku atau dilakukan mendjadi hukum dalam negara kita, sekalipun sudah merdeka. Terbukti sekarang, sekalipun kita sudah merdeka dan berdaulat bernaung di bawah pandji-pandji sang merah putih, namun rakjat jelata jang berpuluh-puluh juta jumlahnja belum merasakan kenikmatan dan kelezatan dalam kehidupan sehari-harinja. Rakyat masih tetap menderita berbagai kesulitan dan kemelaratan. Banyak timbul kekacauan, kekerasan, perampokan, penculikan dan pembunuhan, yang seolah-olah telah menjadi peristiwa sehari-hari. Sementara, bisa dikatakan tidak ada perhatian yang baik dan adil dari pihak pemerintah terhadap berbagai masalah tersebut.
Di kota-kota besar nampak pula kerusakan moral atau budi pekerti bangsa kita. Korupsi tampaknya sudah menjadi masalah sehari-hari, bahkan mungkin sudah menjadi bagian dari pekerjaan seseorang. Narkoba dan seks bebas juga sudah menjadi gaya hidup sebagian masyarakat. Tak ada kendali di dalam pikiran dan akal mereka yang dapat menahan hawa nafsunya. Ini semuanya, yang oleh Tjokroaminoto dikatakan “Jahiliyah modern”.
Kalau alat-alat pemerintah RI yang memegang tampuk kekuasaan pemerintahan, baik pihak atasan maupun sampai bawahan sudah tidak takut lagi kepada hukuman Allah, yakinlah Negara akan rusak dan hancur dengan sendirinya, sebab segala perbuatan jahat, korupsi, penipuan, suapan dan sebagainya yang terang-terang merugikan Negara, dikerjakan dengan aman oleh mereka itu sendiri, rakyat mengerti sebab rakyat yang menjadi korban” (Petikan kata Wondoamiseno, Sekjen PSSI 1950)
Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 6 Agustus 1882. Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo.
“Sang raja tanpa mahkota”, begitulah kaum Kompeni Belanda menyebutnya, lihai cerdas, dan bersemangat. Ditakuti dan juga disegani lawan-lawan politiknya. Perjuangannya dalam membela hak kaum pribumi, benar-benar menempatkan dirinya menjadi seorang tokoh yang benar-benar dihormati. Terlahir dari keluarga bangsawan tak membuatnya bersikap angkuh, justru karena itulah ia akhirnya menjadi sebuah motor penggerak kemerdekaan bagi Indonesia, disaat semua manusia tertidur dalam belaian kompeni Belanda. Dialah tokoh politik yang berhasil menggabungkan retorika politik melawan penjajah Belanda dengan ideologi kebangsaan, sehingga mengenyahkan penjajah dari bumi Nusantara.
Setelah menamatkan studi di Oplayding School Foor Inladishe Ambegtenaren (OSVIA), sekolah pegawai pemerintahan pribumi Magelang, ia mengikuti jejak kepriayian ayahnya sebagai pegawai pangreh praja. Walaupun, akhirnya ia tinggalkan karena muak dengan kebiasaan sembah jongkok yang baginya sangat melecehkan.
Tahun 1905 Cokro pindah ke Surabaya dan bekerja pada perusahaan dagang, di samping ia juga belajar di sekolah malam Hogore Burger School. Bersama istrinya, Suharsikin, ia mendirikan kos-kosan di rumahnya. Melalui rumah kos inilah Cokro menyalurkan ilmunya dalam agama, politik dan berorasi, yang akhirnya menjadi cikal bakal pembentukan tokoh-tokoh penting di Indonesia. Istrinya,  R. A. Suharsikin adalah cermin perempuan yang selalu memberikan bantuan moril. Sudah menjadi kebiasaannya, jika suaminya bepergian untuk kepentingan perjuangannya, istri yang sederhana dan prihatin ini mengiringi suaminya dengan sholat tahajud, dengan puasa, dan doa. Perbedaan ideologi dari para muridnya, secara tidak langsung memberikan warna sendiri bagaimana secara aktif ide-ide, ilmu dan gagasan Cokro menghujam ke dada mereka. Walaupun dengan pemahaman yang beraneka ragam, sesuai dengan latar belakang, pendidikan dan pekerjaannya masing masing. Jadi, pertarungan Soekarno, Kartosuwirjo dan Muso-Alimin sejatinya adalah pertarungan tiga murid dari seorang guru Cokroaminoto. Hal ini mengisyaratkan bahwa adanya perbedaan tafsir para murid terhadap guru, yang kemudian mendorong kecenderungan yang berbeda pula.
Untuk merealisasikan perjuangan menuntut Indonesia merdeka, ia masuk ke dalam Sarekat Dagang Islam (SDI) yang saat itu dipimpin oleh H.Samanhudi di Solo. SDI adalah sebuah pergerakan pertama Indonesia yang menggelorakan semangat kemerdekaan. Bukan Budi Utomo seperti yang diketahui saat ini, karena SDI lahir lebih muda yakni pada tahun 1905. Pendistorsian sejarah semacam ini jelas kejahatan yang dilakukan oleh kelompok yang tidak sepaham, untuk mengaburkan perjuangan Indonesia secara nasional oleh SDI. Karena memang tujuan SDI adalah kemerdekaan. Semenjak masuknya Cokro ke dalam SDI, SDI berubah menjadi sebuah organisasi yang besar dan menakutkan bagi kolonial. Kemahirannya serta kepiawaiannya berpolitik dalam menyuarakan kemerdekaan Indonesia dan memihak kepentingan rakyat, membuat SDI begitu di gandrungi rakyat pribumi. Terlebih setelah SDI berubah menjadi SI dan ia menjadi pemimpin SI. Lewat Cokro tujuan SI mulai diperjelas, yakni kemerdekaan Indonesia.
Karena aktivitas politiknya, Belanda akhirnya menangkap Cokro pada tahun 1921, karena dikhawatirkan akan membangkitkan semangat perjuangan rakyat pribumi, walaupun akhirnya dibebaskan pada tahun 1922. Pada tanggal 14-24 juni 1916 diadakanlah kongres nasional pertama di Bandung. Di dalam kongres tersebut, Cokro mengupas tentang pembentukan bangsa dan pemerintahan sendiri. Sebuah langkah yang sangat berani saat itu, karena bagi rakyat pribumi kemerdekaan adalah hal yang tabu untuk disampaikan. Suatu langkah politik yang benar-benar berani. Cokro membangun opini rakyat yang belum mengerti politik untuk berpihak terhadap perjuanganya. Yaitu menuntut Indonesia merdeka.
Di tengah pemerintah kolonial yang masih kuat, apalagi saat itu Belanda masih menerapkan peraturanReegerings Reglement (RR) sebuah peraturan yang berisi larangan berpolitik, berkumpul untuk membahas perjuangan kemerdekaan. Yang otomatis Cokro saat itu harus berhadapan dengan dua lawan, yaitu Belanda dan Pangreh Praja yang menjadi kaki tangan Belanda.
Roh Cokro akan masih terus bergerak menjadi spirit perjuangan, ketika kebangsaan diartikulasikan sebagai penggerak yang aktif, tidak statis. Yang mengatakan, “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid , sepintar-pintar siasat”. Beliau wafat pada tanggal 17 Desember 1934 di Yogyakarta, dan dimakamkan di TMP Pekuncen, Yogyakarta. (Biografi Tokoh)




Pesan Tersirat :


Dapatkan informasi lain di web
Read More … HOS Tjokroaminoto

HOS Tjokroaminoto Pendidik Politik Bapak Bangsa

Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri

Beliau adalah pemimpin organisasi Sarekat Islam (SI) yang pada awalnya bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Ia banyak berjasa dalam meningkatkan kesadaran dan nasionalisme Bangsa Indonesia. Kiprahnya di Sarekat Islam juga banyak mengilhami generasi sesudahnya. HOS Tjokroaminoto banyak melakukan pengkaderan terhadap generasi muda, sehingga muncullah nama-nama tokoh seperti Soekarno (berhaluan nasionalis), Muso (berhaluan komunis), Kartosuwiryo (berhaluan Islam garis keras). Pada perkembangan selanjutnya, Muso menjadi otak dari pemberontakan PKI di Madiun, dan Kartosuwiryo menjadi pelopor gerakan DI/TII yang ingin membentuk Negara Islam Indonesia.
Tjokroaminoto mempunyai keyakinan yang teguh, bahwa negara dan bangsa kita tak akan mencapai kehidupan yang adil dan makmur, pergaulan hidup yang aman dan tenteram, selama keadilan sosial belum dapat berlaku atau dilakukan menjadi hukum dalam negara kita, sekalipun sudah merdeka. Rakyat masih tetap menderita berbagai kesulitan dan kemelaratan. Banyak timbul kekacauan, kekerasan, perampokan, penculikan dan pembunuhan, yang seolah-olah telah menjadi peristiwa sehari-hari. Di kota-kota besar nampak pula kerusakan moral atau budi pekerti bangsa kita. Korupsi tampaknya sudah menjadi masalah sehari-hari, bahkan mungkin sudah menjadi bagian dari pekerjaan seseorang. Narkoba dan seks bebas juga sudah menjadi gaya hidup sebagian masyarakat. Tak ada kendali di dalam pikiran dan akal mereka yang dapat menahan hawa nafsunya. Ini semuanya, yang oleh Tjokroaminoto dikatakan “Jahiliyah modern”.

“Kalau alat-alat pemerintah RI yang memegang tampuk kekuasaan pemerintahan, baik pihak atasan maupun sampai bawahan sudah tidak takut lagi kepada hukuman Allah, yakinlah Negara akan rusak dan hancur dengan sendirinya, sebab segala perbuatan jahat, korupsi, penipuan, suapan dan sebagainya yang terang-terang merugikan Negara, dikerjakan dengan aman oleh mereka itu sendiri, rakyat mengerti sebab rakyat yang menjadi korban” (Petikan kata Wondoamiseno, Sekjen PSSI 1950)

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 6 Agustus 1882. Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo.


Ditakuti dan juga disegani lawan-lawan politiknya. Perjuangannya dalam membela hak kaum pribumi, benar-benar menempatkan dirinya menjadi seorang tokoh yang benar-benar dihormati. Dialah tokoh politik yang berhasil menggabungkan retorika politik melawan penjajah Belanda dengan ideologi kebangsaan, sehingga mengenyahkan penjajah dari bumi Nusantara.
Walaupun, akhirnya ia tinggalkan karena muak dengan kebiasaan sembah jongkok yang baginya sangat melecehkan.
Tahun 1905 Cokro pindah ke Surabaya dan bekerja pada perusahaan dagang, di samping ia juga belajar di sekolah malam Hogore Burger School. Bersama istrinya, Suharsikin, ia mendirikan kos-kosan di rumahnya. Melalui rumah kos inilah Cokro menyalurkan ilmunya dalam agama, politik dan berorasi, yang akhirnya menjadi cikal bakal pembentukan tokoh-tokoh penting di Indonesia. Suharsikin adalah cermin perempuan yang selalu memberikan bantuan moril. Sudah menjadi kebiasaannya, jika suaminya bepergian untuk kepentingan perjuangannya, istri yang sederhana dan prihatin ini mengiringi suaminya dengan sholat tahajud, dengan puasa, dan doa. Perbedaan ideologi dari para muridnya, secara tidak langsung memberikan warna sendiri bagaimana secara aktif ide-ide, ilmu dan gagasan Cokro menghujam ke dada mereka. Walaupun dengan pemahaman yang beraneka ragam, sesuai dengan latar belakang, pendidikan dan pekerjaannya masing masing. Jadi, pertarungan Soekarno, Kartosuwirjo dan Muso-Alimin sejatinya adalah pertarungan tiga murid dari seorang guru Cokroaminoto. Untuk merealisasikan perjuangan menuntut Indonesia merdeka, ia masuk ke dalam Sarekat Dagang Islam (SDI) yang saat itu dipimpin oleh H.Samanhudi di Solo. SDI adalah sebuah pergerakan pertama Indonesia yang menggelorakan semangat kemerdekaan. Bukan Budi Utomo seperti yang diketahui saat ini, karena SDI lahir lebih muda yakni pada tahun 1905. Pendistorsian sejarah semacam ini jelas kejahatan yang dilakukan oleh kelompok yang tidak sepaham, untuk mengaburkan perjuangan Indonesia secara nasional oleh SDI. Karena memang tujuan SDI adalah kemerdekaan. Semenjak masuknya Cokro ke dalam SDI, SDI berubah menjadi sebuah organisasi yang besar dan menakutkan bagi kolonial. Kemahirannya serta kepiawaiannya berpolitik dalam menyuarakan kemerdekaan Indonesia dan memihak kepentingan rakyat, membuat SDI begitu di gandrungi rakyat pribumi. Terlebih setelah SDI berubah menjadi SI dan ia menjadi pemimpin SI. Karena aktivitas politiknya, Belanda akhirnya menangkap Cokro pada tahun 1921, karena dikhawatirkan akan membangkitkan semangat perjuangan rakyat pribumi, walaupun akhirnya dibebaskan pada tahun 1922. Di dalam kongres tersebut, Cokro mengupas tentang pembentukan bangsa dan pemerintahan sendiri. Sebuah langkah yang sangat berani saat itu, karena bagi rakyat pribumi kemerdekaan adalah hal yang tabu untuk disampaikan. Suatu langkah politik yang benar-benar berani. Cokro membangun opini rakyat yang belum mengerti politik untuk berpihak terhadap perjuanganya. Yaitu menuntut Indonesia merdeka.
Di tengah pemerintah kolonial yang masih kuat, apalagi saat itu Belanda masih menerapkan peraturan Reegerings Reglement (RR) sebuah peraturan yang berisi larangan berpolitik, berkumpul untuk membahas perjuangan kemerdekaan. Yang otomatis Cokro saat itu harus berhadapan dengan dua lawan, yaitu Belanda dan Pangreh Praja yang menjadi kaki tangan Belanda.
Roh Cokro akan masih terus bergerak menjadi spirit perjuangan, ketika kebangsaan diartikulasikan sebagai penggerak yang aktif, tidak statis. Beliau wafat pada tanggal 17 Desember 1934 di Yogyakarta, dan dimakamkan di TMP Pekuncen, Yogyakarta. 




Pesan Tersirat : Roh Cokro akan masih terus bergerak menjadi spirit perjuangan

Check

Dapatkan informasi lain di web
Read More … HOS Tjokroaminoto Pendidik Politik Bapak Bangsa

Nasionalisme Komodo

Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri
"ketik KOMODO dan kirimkan ke nomor 9818"
Pagi ini Rabu 5 Oktober 2011 baca berita (berita bisa dibaca ya ??), maksudnya baca koran ada berita Pak JK jadi duta Besar Pulau Komodo dan melakukan perjalanan serta menghimbau memberi dukungan bisa diberikan dengan mengetik KOMODO dan mengirimkannya ke nomor 9818 atau ke alamat berikut : http://www.new7wonders.com/pilih?lang=id
Bagiku partai pak JK tidak sama bahkan beda karena beliau GOLKAR aku PDI Perjuangan, kalaupun menang mBokDe Pe penjual tahu lontong dekat rumah ngak akan ikut menikmati ramainya turis beli makanan, apa lagi yu Julia penjual lopis itupun tidak akan merasakan ramainya pembeli lopis yang dijualnya. Tukang Ojek Kang Sirus yang jekso (jejeg ora iso) karena kakinya yang agak pincang akibat jatuh dari motor juga ngak akan dapat penumpang tambahan, tetapi walau aku, pedagang, sopir dan yang lain di Kepanjen Malang tidak secara langsung menikmati kemarin ikut kegiatannya Pak Duryat di karang Duren yang ngusung menyongsong peringatan "Sumpah Pemuda" yang isinya :
PERTAMA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH-DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.
KEDOEA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.
KETIGA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.
yang kesimpulannya Pulau Komodo juga "tumpah darah" Indonesia, dan Djitron dan Paulus adalah "berbangsa" Indonesia. Dan dengan raibnya "Candi Borobudur" dari salah satu daftar keajaiban dunia, sudah sewajarnya kita perjuangkan bersama dengan menghilangkan perbedaan Partai, Suku, Ras, Agama, Bahasa bersatu padu seperti para jong jawa, jong sumatra bond, jong celebes, jong ambon, jong minahasa dan lainnya yang "mau" bersatu padu melepaskan "EGO-nya" demi NKRI.
Dengan mengikhlaskan Rp 1000,- untuk SMS "KOMODO dan mengirimkannya ke nomor 9818", atau memberi dukungan lewat http://www.new7wonders.com/pilih?lang=id tentunya dapat ikut serta membantu Negeri Kita menjadikan Komodo sebagai salah satu keajaiban dunia.

Tidak peduli Pak JK mau nyalon lagi, si Tores kebanjiran turis, Felix rumahnya jadi hotel, bang Bunganaen natinya jadi Juragan Bunga, atau apapun peningkatan status ekonomi mereka yang jelas dengan Persatuan dan Kesatuan kita BISA, dulu dijajah bisa merdeka, mengapa setelah merdeka kita tidak bisa bersatu?, toh jabatan, rejeki, nasib sudah ada yang ngatur.

Pesan Tersirat : Tujuan hidup adalah merdeka bersama Allah, Tuhan yang menciptakannya.

Check

Dapatkan informasi lain di web
Read More … Nasionalisme Komodo

Penghinaan pada Pancasila


Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri

Pengurus Konferensi Wali Gereja Indonesia, Romo Benny Susetyo, menyesalkan peristiwa bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, Jawa Tengah. Gereja sebagai tempat ibadah semestinya dijaga, bukan dirusak.
Ini penghinaan terhadap rumah Tuhan dan Pancasila. Rumah Tuhan harusnya dijaga, bukan berperang rumah Tuhan. Orang-orang yang menghalalkan cara seperti itu tidak layak hidup dalam bangsa ini. Tindakan ini melukai bangsa kita, " ujar Romo Benny di kantor pusat Gerakan Pemuda Ansor, Jakarta Pusat, Minggu (25/9/2011) petang.
Ia menuntut pemerintah bersikap tegas terhadap berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi yang berlatar belakang SARA. Menurutnya, hal ini merusak nilai-nilai toleransi yang selama ini telah dipupuk lewat Pancasila.
"Ini saatnya Bapak Presiden kita tidak hanya berwacana, tapi juga bertindak, menuntaskan kasus-kasus seperti ini. Harus tegas memberantas budaya-budaya kekerasan semacam ini," katanya.

Sumber : komp@s nasional
Pesan Tersirat : Pemerintah berkewajiban melindungi warganya

Check

Dapatkan informasi lain di web
Read More … Penghinaan pada Pancasila

Bahkan Sepatupun tak Terbeli, Bung Hatta Kejujuran dan Kesederhanaan

Amalkan Pancasila Mulai Diri SendiriTautan

Bung Hatta terkenal dengan sikapnya yang selalu jujur, santun, dan hemat, selain pandai serta memiliki keberanian dalam diplomasi yang sudah terbuktikan dalam sejarah perjuangan bangsa menuju gerbang kemerdekaan. Meutia Farida Hatta Swasono, putri sulung Bung Hatta menulis di Harian Kompas (9/8/2002): "Keluargaku bukan keluarga yang mengejar kemewahan hidup. Bukan hanya ayahku saja yang berprinsip demikian, namun juga ibuku, Ibu Rahmi Hatta. 'Kita sdh cukup hidup begini, yg kita miliki hanya nama baik, itu yang harus kita jaga terus,' kenang Meutia Hatta sambil menirukan kata-kata sang Ayah kepada ibunya."

Keberanian Bung Hatta dan Bung Karno membubuhkan tanda tangan pada naskah Proklamasi adalah risiko besar buat mereka berdua. Mereka bisa saja dituduh sebagai pemimpin pemberontakan, makar, penggulingan kekuasaan, bahkan kemungkinan sebagai tertuduh penjahat perang, oleh para penjajah.

Jepang yang sudah takluk dalam Perang Pasifik dan Perang Dunia II saja masih memperlihatkan minatnya menjajah Indonesia, apalagi dengan bangsa sekutu yang merasa di atas angin karena kemenangannya terhadap Jepang. Dan saat itu secara terang-terangan beberapa tokoh pergerakan yang menolak membubuhkan tanda tangan mereka (saat proklamasi akan diucapkan) atas alasan yang sama. Namun kedua Proklamator tersebut justru dengan gagah berani menanggung resiko besar itu, demi memberitakan Kedaulatan Indonesia.

Sikap santun Bung Hatta tak mengurangi keberaniannya memilah antara yang haq/benar dan yang salah. Saat mundur dari jabatan Wakil Presiden RI pada 1 Desember 1956, ia dengan elegan serta santun menyampaikannya kepada pemerintah. Ia merasa Bung Karno telah berlaku contradictio in terminis (di satu sisi ingin mewujudkan demokrasi, sedangkan di sisi lain duduk di atas demokrasi).

Sikapnya masih sama, tegas dalam bersikap namun tetap santun dalam mengemukakan argumentasinya. Sebelum mundur, ia sempat berkali-kali memberi masukan kepada sahabatnya itu, namun ketika Bung Karno tetap berjalan sesuai dengan konsepsinya sendiri, maka kemudian Bung Hatta dengan tegas undur diri.

Kejujuran Bung Hatta tidak diragukan. Bukan hanya jujur, tetapi juga menurut Jacob Oetama (Pemimpin Umum harian Kompas), Bung Hatta adalah jenis manusia yang uncorruptable, tidak bisa korupsi. Kejujuran hatinya membuat dia tak rela untuk sedikit saja menyimpang, sekedar menodainya dengan tindak korupsi.

Kalau saja ia mau melakukan korupsi, mungkin bukan hanya sepatu merek Bally yang mampu dibelinya, namun saham di pabrik sepatu tersebut bisa dibelinya. Dan setiap hari bisa dipastikan ia akan berganti-ganti sepatu baru. Namun, ia tak melakukan semua itu. Ia hanya menyelipkan potongan iklan sepatu merek Bally yang tidak mampu dibelinya hingga akhir hayatnya. Bahkan untuk membayar listrik rumahnya pun ia hanya mengandalkan uang pensiun sebagai Wakil Presiden. Berkali-kali ia menasehati keluarganya, untuk tidak mengambil selain yang menjadi haknya.

Hingga akhir hidupnya potongan iklan Sepatu Merek Bally tetap ia simpan sebagai kenang-kenangan bahwa nilai-nilai Kejujuran selalu mampu mengalahkan ego pribadinya sebagai manusia biasa. Bung Hatta adalah cermin seorang tokoh yang lurus dan bersih serta memiliki nama baik yang senantiasa terus dijaganya.




Pesan Tersirat : Harga Diri diatas segalanya

Check
Read More … Bahkan Sepatupun tak Terbeli, Bung Hatta Kejujuran dan Kesederhanaan

Indahnya Kerukunan Beragama


Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri


Sebagaimana di beberapa kota di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, di Kepanjen pun pelaksanaan sholat Ied terjadi 2 hari berturut-turut. Namun ada sesuatu yang menarik saat penulis melaksanakan sholat ied di hari Rabu (31/08/2011). Ada beberapa anggota masyarakat yang menggunakan seragam hitam putih di beberapa tempat, ternyata mereka adalah gabungan beberapa umat beragama Non Muslim. Mereka ikut serta membantu mengamankan jalannya pelaksanaan Sholat Ied yang tengah dilaksanakan oleh umat Islam di Kepanjen.

Menurut salah seorang aktifis tersebut dari gabungan umat Kristen, Katolik, dan hindu yang ada di wilayah kepanjen telah melaksanakan bantuan pengamanan kegiatam semenjak kegiatan Takbir tanggal 29 Agustus malam hingga pelaksanaan sholat pagi hari tanggal 31 Agustus ini.

Jumlah personil yang diturunkan guna membantu pengamanan kegiatan hari besar Islam ini sejumlah 50 orang yang disebar di 7 Lokasi di wilayah Kecamatan Kepanjen.

Mereka berharap dengan adanya kerjasama dalam berbagai kegiatan yang ada dapat mewujudkan kehidupan yang rukun dan tenteram bagi bangsa Indonesia dan khususnya masyarakat kecamatan Kepanjen pada khususnya.

Dengan semangat rasa Nasionalisme yang dimiliki oleh berbagai kalangan umat beragama di Kecamatan Kepanjen kegiatan-kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik dan dengan niatan yang tulus untuk saling menghargai dan menghormati kepercayaan masing-masing warga negara.

Pesan Tersirat : Hidup Rukun dan toleransi beragama mewujudkan Kedamaian
Read More … Indahnya Kerukunan Beragama

Hari Lahir BUNG HATTA


Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Di kota kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Dari ibunya, Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Sejak duduk di MULO di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak tahun 1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa. dan Jong Ambon. Hatta masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond.
Sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, ia menyadari pentingnya arti keuangan bagi hidupnya perkumpulan. Tetapi sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung jawab dan disiplin selanjutnya menjadi ciri khas sifat-sifat Mohammad Hatta. Pada tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging. Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).
Hatta juga mengusahakan agar majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antaranggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. Semula dia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki jurusan itu terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik.

Perpanjangan rencana studinya itu memungkinkan Hatta terpilih menjadi Ketua PI pada tanggal 17 Januari 1926. Pada kesempatan itu, ia mengucapkan pidato inaugurasi yang berjudul "Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen"--Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan kekuasaan. Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan berdasarkan itu, menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif.

Sejak tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut Hatta dipilih menjadi Ketua PI. Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan mahasiswa biasa menjadi organisasi politik yang mempengaruhi jalannya politik rakyat di Indonesia. Sehingga akhirnya diakui oleh Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) PI sebagai pos depan dari pergerakan nasional yang berada di Eropa. PI melakukan propaganda aktif di luar negeri Belanda. Hampir setiap kongres intemasional di Eropa dimasukinya, dan menerima perkumpulan ini. Selama itu, hampir selalu Hatta sendiri yang memimpin delegasi. Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama "Indonesia", Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Tanpa banyak oposisi, "Indonesia" secara resmi diakui oleh kongres. Nama "Indonesia" untuk menyebutkan wilayah Hindia Belanda ketika itu telah benar-benar dikenal kalangan organisasi-organisasi internasional.

Hatta dan pergerakan nasional Indonesia mendapat pengalaman penting di Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial, suatu kongres internasional yang diadakan di Brussels tanggal 10-15 Pebruari 1927. Di kongres ini Hatta berkenalan dengan pemimpin-pemimpin pergerakan buruh seperti G. Ledebour dan Edo Fimmen, serta tokoh-tokoh yang kemudian menjadi negarawan-negarawan di Asia dan Afrika seperti Jawaharlal Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor (Afrika). Persahabatan pribadinya dengan Nehru mulai dirintis sejak saat itu. Pada tahun 1927 itu pula, Hatta dan Nehru diundang untuk memberikan ceramah bagi "Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan" di Gland, Swiss. Judul ceramah Hatta L 'Indonesie et son Probleme de I' Independence (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan).
Bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat, Hatta dipenjara selama lima setengah bulan. Pada tanggal 22 Maret 1928, mahkamah pengadilan di Den Haag membebaskan keempatnya dari segala tuduhan. Dalam sidang yang bersejarah itu, Hatta mengemukakan pidato pembelaan yang mengagumkan, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama "Indonesia Vrij", dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai buku dengan judul Indonesia Merdeka. Antara tahun 1930-1931, Hatta memusatkan diri kepada studinya serta penulisan karangan untuk majalah Daulat Ra�jat dan kadang-kadang De Socialist. Ia merencanakan untuk mengakhiri studinya pada pertengahan tahun 1932.

Pada bulan Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri Belanda dan sebulan kemudian ia tiba di Jakarta. Antara akhir tahun 1932 dan 1933, kesibukan utama Hatta adalah menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Rakjat dan melakukan berbagai kegiatan politik, terutama pendidikan kader-kader politik pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Prinsip non-kooperasi selalu ditekankan kepada kader-kadernya. Reaksi Hatta yang keras terhadap sikap Soekarno sehubungan dengan penahannya oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yang berakhir dengan pembuangan Soekarno ke Ende, Flores, terlihat pada tulisan-tulisannya di Daulat Rakjat, yang berjudul "Soekarno Ditahan" (10 Agustus 1933), "Tragedi Soekarno" (30 Nopember 1933), dan "Sikap Pemimpin" (10 Desember 1933).
Pada bulan Pebruari 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pemerintah Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya kepada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Para pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia ditahan dan kemudian dibuang ke Boven Digoel. Seluruhnya berjumlah tujuh orang. Dari kantor Jakarta adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Bondan. Dari kantor Bandung: Maskun Sumadiredja, Burhanuddin, Soeka, dan Murwoto. Sebelum ke Digoel, mereka dipenjara selama hampir setahun di penjara Glodok dan Cipinang, Jakarta. Di penjara Glodok, Hatta menulis buku berjudul Krisis Ekonomi dan Kapitalisme.

Pada bulan Januari 1935, Hatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua). Kepala pemerintahan di sana, Kapten van Langen, menawarkan dua pilihan: bekerja untuk pemerintahan kolonial dengan upah 40 sen sehari dengan harapan nanti akan dikirim pulang ke daerah asal, atau menjadi buangan dengan menerima bahan makanan in natura, dengan tiada harapan akan dipulangkan ke daerah asal. Hatta menjawab, bila dia mau bekerja untuk pemerintah kolonial waktu dia masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji besar pula. Maka tak perlulah dia ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan gaji 40 sen sehari.
Dalam pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup di Tanah Merah dan dia dapat pula membantu kawan-kawannya. Rumahnya di Digoel dipenuhi oleh buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 peti. Dengan demikian, Hatta mempunyai cukup banyak bahan untuk memberikan pelajaran kepada kawan-kawannya di pembuangan mengenai ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat. Kumpulan bahan-bahan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan dengan judul-judul antara lain, "Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan" dan "Alam Pikiran Yunani." (empat jilid).

Pada bulan Desember 1935, Kapten Wiarda, pengganti van Langen, memberitahukan bahwa tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dipindah ke Bandaneira. Pada Januari 1936 keduanya berangkat ke Bandaneira. Mereka bertemu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan penduduk setempat dan memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, tatabuku, politik, dan lain-Iain. Pada tanggal 3 Pebruari 1942, Hatta dan Sjahrir dibawa ke Sukabumi. Pada tanggal 9 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang, dan pada tanggal 22 Maret 1942 Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta.

Pada masa pendudukan Jepang, Hatta diminta untuk bekerja sama sebagai penasehat. Hatta mengatakan tentang cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka, dan dia bertanya, apakah Jepang akan menjajah Indonesia? Kepala pemerintahan harian sementara, Mayor Jenderal Harada. menjawab bahwa Jepang tidak akan menjajah. Namun Hatta mengetahui, bahwa Kemerdekaan Indonesia dalam pemahaman Jepang berbeda dengan pengertiannya sendiri. Pengakuan Indonesia Merdeka oleh Jepang perlu bagi Hatta sebagai senjata terhadap Sekutu kelak. Bila Jepang yang fasis itu mau mengakui, apakah sekutu yang demokratis tidak akan mau? Karena itulah maka Jepang selalu didesaknya untuk memberi pengakuan tersebut, yang baru diperoleh pada bulan September 1944.

Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tidak banyak bicara. Namun pidato yang diucapkan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggaI 8 Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan, �Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali."


Pada awal Agustus 1945, Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dengan Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Anggotanya terdiri dari wakil-wakil daerah di seluruh Indonesia, sembilan dari Pulau Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau Jawa. Pada tanggal 16 Agustus 1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Panitia kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekamo, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menyarankan agar Soekarno yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya. Setelah pekerjaan itu selesai. mereka membawanya ke ruang tengah, tempat para anggota lainnya menanti.
Soekarni mengusulkan agar naskah proklamasi tersebut ditandatangi oleh dua orang saja, Soekarno dan Mohammad Hatta. Semua yang hadir menyambut dengan bertepuk tangan riuh. Tangal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, tepat pada jam 10.00 pagi di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta. Tanggal 18 Agustus 1945, Ir Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Mohammad Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Soekardjo Wijopranoto mengemukakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden harus merupakan satu dwitunggal.

Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya dari usaha Pemerintah Belanda yang ingin menjajah kembali. Pemerintah Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda menghasilkan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Reville, tetapi selalu berakhir dengan kegagalan akibat kecurangan pihak Belanda. Untuk mencari dukungan luar negeri, pada Juli I947, Bung Hatta pergi ke India menemui Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi. dengan menyamar sebagai kopilot bernama Abdullah (Pilot pesawat adalah Biju Patnaik yang kemudian menjadi Menteri Baja India di masa Pemerintah Perdana Menteri Morarji Desai). Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan protes dan resolusi kepada PBB agar Belanda dihukum.

Kesukaran dan ancaman yang dihadapi silih berganti. September 1948 PKI melakukan pemberontakan. 19 Desember 1948, Belanda kembali melancarkan agresi kedua. Presiden dan Wapres ditawan dan diasingkan ke Bangka. Namun perjuangan Rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan terus berkobar di mana-mana. Panglima Besar Soediman melanjutkan memimpin perjuangan bersenjata.Pada tanggal 27 Desember 1949 di Den Haag, Bung Hatta yang mengetuai Delegasi Indonesia dalam Konperensi Meja Bundar untuk menerima pengakuan kedaulatan Indonesia dari Ratu Juliana.

Bung Hatta juga menjadi Perdana Menteri waktu Negara Republik Indonesia Serikat berdiri. Selanjutnya setelah RIS menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden. Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Dia juga tetap menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi. Dia juga aktif membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Tanggal 12 Juli 1951, Bung Hatta mengucapkan pidato radio untuk menyambut Hari Koperasi di Indonesia. Karena besamya aktivitas Bung Hatta dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Pikiran-pikiran Bung Hatta mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971).

Pada tahun 1955, Bung Hatta mengumumkan bahwa apabila parlemen dan konsituante pilihan rakyat sudah terbentuk, ia akan mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Niatnya untuk mengundurkan diri itu diberitahukannya melalui sepucuk surat kepada ketua Perlemen, Mr. Sartono. Tembusan surat dikirimkan kepada Presiden Soekarno. Setelah Konstituante dibuka secara resmi oleh Presiden, Wakil Presiden Hatta mengemukakan kepada Ketua Parlemen bahwa pada tanggal l Desember 1956 ia akan meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI. Presiden Soekarno berusaha mencegahnya, tetapi Bung Hatta tetap pada pendiriannya.

Pada tangal 27 Nopember 1956, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di Yoyakarta. Pada kesempatan itu, Bung Hatta mengucapkan pidato pengukuhan yang berjudul �Lampau dan Datang�. Sesudah Bung Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI, beberapa gelar akademis juga diperolehnya dari berbagai perguruan tinggi. Universitas Padjadjaran di Bandung mengukuhkan Bung Hatta sebagai guru besar dalam ilmu politik perekonomian. Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ekonomi. Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum. Pidato pengukuhan Bung Hatta berjudul �Menuju Negara Hukum�.

Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis "Demokrasi Kita" dalam majalah Pandji Masyarakat. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu. Dalam masa pemerintahan Orde Baru, Bung Hatta lebih merupakan negarawan sesepuh bagi bangsanya daripada seorang politikus. Hatta menikah dengan Rahmi Rachim pada tanggal l8 Nopember 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Mereka mempunyai tiga orang putri, yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi'ah, dan Halida Nuriah. Dua orang putrinya yang tertua telah menikah. Yang pertama dengan Dr. Sri-Edi Swasono dan yang kedua dengan Drs. Mohammad Chalil Baridjambek. Hatta sempat menyaksikan kelahiran dua cucunya, yaitu Sri Juwita Hanum Swasono dan Mohamad Athar Baridjambek.

Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presiden Soeharto menyampaikan kepada Bung Hatta anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi "Bintang Republik Indonesia Kelas I" pada suatu upacara kenegaraan di Istana Negara. Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir pada tanggal 15 Maret 1980.
Pesan Tersirat :
Read More … Hari Lahir BUNG HATTA

“Aku Melihat Indonesia”

Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri



Jika aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar lautan Indonesia bergelora
Membanting di pantai Ngeliyep itu
Aku mendengar lagu – sajak Indonesia

Jikalau aku melihat
Sawah menguning menghijau
Aku tidak melihat lagi
Batang padi menguning – menghijau
Aku melihat Indonesia

Jika aku melihat gunung-gungung
Gunung Merapi, gunung Semeru, gunung Merbabu
Gunung Tangkupan Prahu, gunung Klebet
Dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku mendengar pangkur palaran
Bukan lagi pangkur palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia

Jika aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia

Jika aku melihat wajah anak-anak di desa-desa
Dengan mata yang bersinar-sinar
(berteriak) Merdeka! Merdeka!, Pak! Merdeka!

Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia!

----Bung Besar---

Sumber : facebook
Pesan Tersirat :

Check
Read More … “Aku Melihat Indonesia”
 

Free Blog Templates

Blog Tricks

Easy Blog Tricks

bukan blog koruptor

perangi korupsi
dari dirimu sendiri
©  Grunge Theme Copyright by Paguyuban NASIONALIS Kab Malang | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks