Showing posts with label Dokumen. Show all posts
Showing posts with label Dokumen. Show all posts

Sarekat Dagang Islam


Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri

Pada tanggal 16 Oktober 1905 adalah berdirinya Sarekat Perdagangan Islam (SDI). SDI dimulai dari aturan pedagang non-pribumi yang mendominasi perdagangan dalam negeri, sehingga organisasi ingin menghalau perdagangan yang tidak sehat. Pedagang pribumi jatuh korban kontrol non-pribumi pedagang. Mereka terus untuk perdagangan perusahaan dan bersaing dengan pedagang lokal.
Islam perdagangan SI (SDI) untuk mencapai tidak hanya sebagai sebuah organisasi untuk kesejahteraan ekonomi negara, tetapi dalam politik SDI sebagai berbahaya oleh pemerintahan kolonial Belanda. Organisasi ini dengan cepat meluas ke hampir seluruh penjuru nusantara untuk semua lapisan masyarakat. SDI adalah aktif tidak hanya untuk perbaikan dalam perekonomian, namun menuntut kemerdekaan bangsa. Ini telah beku perbaikan dalam tubuh setelah SDI membawa pada bulan Agustus 1912. Akhirnya, organisasi undang-undang ini, yang disahkan oleh akta notaris di Surabaya pada tanggal 10 September 1912. Dalam keputusannya, organisasi, untuk menghapus kata "perdagangan", sehingga para pemimpin Islam SI (SI) dengan sebagai Haji Oemar Tjokroaminoto Kata SI.
Kolonisasi dengan praktek bahwa orang menekan Belanda terus menolak keras untuk mewujudkan negara SI, kebenaran dan keadilan. SI untuk reformasi dan perbaikan di tubuh organisasi ini.

Pesan Tersirat :

Check

Dapatkan informasi lain di web
Read More … Sarekat Dagang Islam

“Aku Melihat Indonesia”

Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri



Jika aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar lautan Indonesia bergelora
Membanting di pantai Ngeliyep itu
Aku mendengar lagu – sajak Indonesia

Jikalau aku melihat
Sawah menguning menghijau
Aku tidak melihat lagi
Batang padi menguning – menghijau
Aku melihat Indonesia

Jika aku melihat gunung-gungung
Gunung Merapi, gunung Semeru, gunung Merbabu
Gunung Tangkupan Prahu, gunung Klebet
Dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku mendengar pangkur palaran
Bukan lagi pangkur palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia

Jika aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia

Jika aku melihat wajah anak-anak di desa-desa
Dengan mata yang bersinar-sinar
(berteriak) Merdeka! Merdeka!, Pak! Merdeka!

Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia!

----Bung Besar---

Sumber : facebook
Pesan Tersirat :

Check
Read More … “Aku Melihat Indonesia”

Not Lagu Indonesia Raya (WR Supratman)

Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri

Lagu kebangsaan kita berjudul Indonesia Raya sebagaimana diatur dalam UUD 1945, Bab XV, Pasa 36B, yang merupakan hasil “perubahan kedua”.

Pasal ini berbunyi, “Lagu Kebangsaan ialah Indonesia Raya.”



Pada bulan Oktober tahun 1928 di Jakarta dilangsungkan Kongres Pemuda II. Kongres itu melahirkan Sumpah Pemuda. Pada saat malam penutupan kongres, tepatnya tanggal 28 Oktober 1928, Soepratman memperdengarkan lagu ciptaannya secara instrumental di depan peserta kongres tersebut (secara intrumental dengan biola atas saran Soegondo berkaitan dengan kondisi dan situasi pada waktu itu). Pada saat itulah untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dikumandangkan di depan umum. Semua yang hadir terpukau mendengarnya. Dengan cepat lagu itu terkenal di kalangan pergerakan nasional. Apabila partai-partai politik mengadakan kongres, maka lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan. Lagu itu merupakan perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka.

Untuk mengunduh dokumen, silakan klik gambar atau klik teks berikut:

Partitur Not Angka-Not Balok Indonesia Raya


Pesan Tersirat :

Check
Read More … Not Lagu Indonesia Raya (WR Supratman)

Petung Papak Wagir


Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri

Melanjutkan kegitan Ngaji Pancasila, pada hari Sabtu 25 Juni, bertempat di Rumah Tarmuji pada pukul 19.15 di awali oleh Sujud Pribadi memberikan makna berkehidupan Pancasila, dinginnya malam yang cukup menggigit tidak menjadikan para undangan khusunya warga desa Sidodadi meninggalkan tempat. Suasana yang penuh semangat menjadikan sekitar 70-an warga yang memiliki rasa kangen pada Bupati yang telah menyelesaikan tugasnya pada tahun 2010 lalu menjadi terhibur

Kusnadi yang menjadi pembicara ke dua mengingatkan rasa kebersamaan warga dalam gotong-royong saat membangun jalan aspal di dusun ini, tidak ketinggalan pula memori saat bersama-sama basah kuyub dalam Truk saat bersama melakukan kegiatan di Sumbermanjing. Herman H pada giliran ke tiga menyampaikan bahwa dimata Allah semua orang sama hanya ketakwaanlah yang membedakan karena seorang pejabat pada saatnya akan berhenti, orang yang kuatpun dapat menjadi sakit sehingga masyarakat didorong untuk bisa bekerja bersama-sama dengan pemerintahan yang sah dan mengkritisi kebijakan yang ada sesuai proporsinya.

Setelah Carik desa menyampaikan pandangannya tentang rasa nasionalisme ditutup oleh Sujud pribadi dengan menekankan rasa jujur dalam bekerja, keyakinan pada Tuhan yang Maha Esa

Pesan Tersirat :

Check
Read More … Petung Papak Wagir

Benarkah PANCASILA Bernasib Sial

Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri

Pancasila itu memang sial. Oleh para kuratornya hanya dibahas, didiskusikan, diseminarkan, ditatarkan setelah itu dimasukkan ke dlm almari akademik.
Dijadikan referensi oleh para sarjana / calon sarjana S1, S2 dst. Beliau2 itu tdk mempunyai kepentingan apakah PS itu perlu diimplementasikan atau tdk.

Asal DISERTASINYA ttg PS dpt nilai cum laude, beres. Nah di forum inilah seorang Abdul Azis bermimpi untuk mengangkat kembali BARANG ROSOKAN yg bernama BUTIR BUTIR Pancasila itu dicoba untuk diolah menjadi BARANG ANTIK yg bernilai tinggi.


Sebuah tulisan bahan diskusi yang menarik untuk dapat di ikuti, detl selanjutnya dapat diikuti di : http://www.facebook.com/topic.php?uid=103732489690136&topic=102
Pesan Tersirat : Bagaimana menurut anda ?
Check
Read More … Benarkah PANCASILA Bernasib Sial

Nasionalisme Ideologi Hidup

Amalkan PANCASILA mulai DIRI SENDIRI
Catatan tentang Ideologi Hidup,
Cinta Tanah Air dan Membangun Nasionalisme 
Oleh Dhika Firdian *


 Kata nasionalisme berasal dari ”nation” (bahasa Inggris) artinya ”bangsa”, dalam bahasa Latin diartikan ”kelahiran kembali, bangsa, atau suku”. Selanjutnya definisi bangsa adalah sekelompok orang yang mendiami suatu wilayah tertentu, dimana memiliki hasrat dan kemauan bersama guna bersatu karena persamaan nasib, cita-cita, kepentingan dan tujuan.

Sehingga nasionalisme dimaknai sebagai paham yang menempatkan dan memberikan kesetiaan tertinggi individu (warga) kepada negara dan bangsa (Hans Kohn). Semangat dan perasaan kebangsaan ialah perasaan cinta terhadap bangsa dan tanah airnya. Maka inilah sikap politik sekelompok orang yang memiliki kesamaan budaya dan wilayah serta sama dalam hal cita-cita, sehingga merasakan kuatnya kesetiaan terhadap kelompok (bangsa). Dengan demikian, nasionalisme adalah paham atau ideologi politik suatu golongan yang meletakkan unsur CINTA TANAH AIR di atas segala-galanya -- melebihi unsur atau aspek lain dalam dinamika berbangsa dan bernegara.

Bentuk Nasionalisme
Dalam perspektif politik global, nasionalisme sebagai teori dan paham terbagi enam bentuk besar atau kategori. Antara lain adalah aliran berbasis keagamaan, kenegaraan, romantik, etnis, budaya dan kewarganegaraan. Akan tetapi dalam implementasinya, terkait kharakteristik, budaya dan sejarah bangsa –terlebih di era globalisasi -- jarang diterapkan secara mutlak satu teori tunggal, kelaziman muncul ialah model-model campuran antara bentuk yang satu dengan lainnya.
Sebelum melangkah jauh, akan dijelaskan bentuk asli masing-masing teori dan kategori yang berkembang, antara lain :
  1. Nasionalisme Kewarganegaraan. Atau disebut nasionalisme sipil yaitu suatu kategori nasionalis, dimana negara mendapat kebenaran politik dari penyertaan aktif rakyat, kehendak, atau perwakilan politik. Teori ini mula-mula dibangun oleh JJ Roscoeu dalam bukunya berjudul Du Contract Sociale (Mengenai Kontrak Sosial); 
  2. Nasionalisme Etnis. Adalah suatu jenis nasionalisme ketika negara memperoleh kebenaran politik melalui budaya asal atau etnis suatu masyarakat. Ia dibangun Johann Gottfried von Herder yang mengenalkan konsep Volk (bahasa Jerman, artinya "rakyat");
  3. Nasionalisme Romantik. Juga disebut nasionalisme organik adalah lanjutan dari nasionalisme etnis dimana negara memperoleh kebenaran politik secara (organik) hasil dari suatu bangsa atau ras; menurut semangat romantisme. Nasionalisme romantik ini bergantung pada perwujudan etnis yang menepati idealisme romantik; membangun kisah tradisi yang telah direka sebagai konsep nasionalisme romantik;
  4. Nasionalisme Budaya. Adalah aliran nasionalis yang memperoleh kebenaran politiknya dari budaya bersama dan bukan "sifat keturunan" -- seperti warna kulit, ras dan lainnya. Contoh terbaik ialah rakyat Tionghoa menganggap negara berdasarkan budaya. Unsur ras ditinggalkan dimana golongan Manchu serta ras-ras minoritas lain dianggap sama sebagaimana rakyat lainnya. Kesediaan dinasti Qing menggunakan adat istiadat dalam mekanisme pemerintahan membuktikan keutuhan budaya Tionghoa. Akhirnya banyak rakyat Taiwan menganggap dirinya mempunyai nasionalis Tiongkok karena persamaan etnis, kendati secara politis menolak Pemerintahan Cina karena berideologi komunis;
  5. Nasionalisme Kenegaraan. Ialah gabungan aliran kewarganegaraan dengan aliran etnis. Kuatnya perasaan nasionalistik hingga lebih memberi keutamaan mengatasi hak universal dan kebebasan. Kejayaan negeri selalu kontras dan berkonflik dengan prinsip masyarakat demokrasi. Penyelenggaraan “National State” dianggap argumen ulung, karena seolah-olah membentuk kerajaan tersendiri. Contohnya ialah nazisme dan nasionalisme model Turki kontemporer dan sebagainya. Terkadang deras arus nasionalisme di suatu bangsa malah menimbulkan konflik internal. Artinya kesetiaan warga terhadap tanah airnya justru berpotensi berhadapan dengan pengelola wilayah (pemerintah), misalnya  nasionalisme Turki di zaman Dinasti Utsmaniyah dulu, atau penindasan terhadap nasionalisme Kurdi di Iraq, namun hal itu bukan suatu keniscayaan hanya kasuistis saja sebab “sesuatu” hal berkenaan dengan politik praktis;
  6. Nasionalisme Agama. Nasionalisme ini ialah dimana negara meraih legitimasi politik dari persamaan agama. Meski seringkali nasionalisme agama adalah campuran dengan etnis. Misalnya Irlandia, ternyata sumber semangat nasionalis dari agama sama yaitu Katolik; juga nasionalisme di India yang dilakukan pengikut partai BJP bersumber dari Hindu.
Bagi kebanyakan kaum nasionalis, sering meletakkan agama hanya simbol dan bukannya motivasi utama kelompok. Contohnya pada abad ke-18, nasionalisme Irlandia dipimpin penganut agama Protestan. Gerakan nasionalis di Irlandia bukannya berjuang untuk memartabatkan teologi semata, namun menegakkan paham terkait Irlandia sebagai negara merdeka, terutama budaya. Oleh karena itu, nasionalisme kerap dikaitkan dengan kebebasan meskipun tidak seluruhnya demikian.¬¬¬
Sesungguhnya apapun ideologi dianut suatu Negara bangsa, entah ia komunis, kapitalis, sosialis, fasis dan sebagainya -- maka rasa cinta terhadap tanah air merupakan hal vital lagi urgen. Artinya tanpa landasan nasionalisme yang kokoh dari para warga, suatu bangsa akan rapuh, rentan perpecahan dan mudah “ditaklukkan” bangsa lain (asing). Sudah tentu semangat cinta tanah air mutlak harus ditumbuhkan, dikemangkan bahkan dilestarikan, sebab ia adalah titik awal dan landasan utama dalam rangka membangun suatu bangsa dan negara yang jaya.

Bagaimana Nasionalisme Indonesia
Indonesia adalah negeri kepulauan (archiepelagos) terbesar berpenduduk lebih dari 200-an juta jiwa dengan aneka suku, agama, ras, golongan dan bahasa – maka jiwa, semangat dan perasaan cinta tanah air dari setiap warga negara harus menjadi suatu HARGA MATI dan TAK BOLEH DITAWAR-TAWAR LAGI. Tanpa doktrin kuat, negeri ini tinggal menunggu saat keruntuhannya saja!
Oleh karena itu -- siapapun warga, dari mana suku dan ras, apapun agama dan golongan selama ia menjadi bagian dari semangat dan perasaan cinta tanah air maka mata batinnya wajib tertuju pada satu arah yakni : Menuju Indonesia Jaya!
Maka cinta tanah air dan cita-cita menuju Indonesia Jaya, wajib diletakkan  SATU TARIKAN NAFAS, yakni menuju “negeri yang makmur berkeadilan dan adil berkemakmuran”. Ia pantas digelegarkan, seperti halnya ombak di laut yang tak berujung lagi tak pernah membikin bosan bagi setiap insan yang berkunjung.
Walaupun dalam praktek nasionalisme kini -- warga usia lanjut sering kebacut, dan usia muda cenderung membuat kecewa. Ataukah ada sebab pokok - kenapa banyak anak bangsa kini lebih mencintai “tanah” lain, selain tanah air beta? Ada segelintir kaum yang asyik mencari cinta lain negeri asing daripada negerinya sendiri dengan cara sembunyi atau bahkan secara terang-terangan berkedok menegakkan HAM, kemiskinan dan kemanusiaan.
Barangkali rasa nasionalis mereka tengah bersembunyi di antara (sedap) garam dan pahit yang melekat di air. Sedapnya cinta terhadap tanah air, seperti hilang tertutup hijab -- membuat buta, menjadikan gila – menerpa siapa saja. Lelaku getir dan luka dalam membangun nasionalisme bangsa, boleh saja diibaratkan sekedar mencicip secangkir kopi -- lalu pergi. Entah kemana.

Tingkatan dan Membangun Nasionalisme
Membangun dan meraih nasionalisme yang kokoh terpatri di setiap warga, laksana bahtera yang berlayar di laut bebas meraih cinta dan cita-cita. Yah, setiap diri warga niscaya berharap “dermaga” kesenangan dan kebahagian dalam kehidupan.
Sebagaimana diurai bahwa kalimat “nasionalisme dan Indonesia makmur berkeadilan” merupakan satu tarikan nafas, tak boleh terpisahkan. Itu mutlak. Oleh sebab warga memberikan kesetiaan tertinggi kepada negara, lalu menjadi wajar ketika (suasana) adil berkemakmuran mengisi setiap beranda, kantong dan isi dapur warga melalui peran negara. Alangkah indahnya!
Ada sastra berbunyi : “culiko mlebu warongko” -- andai terhunus pedang bakal menghujam lawan-lawan! Itulah seharusnya praktek riil nasionalisme di Indonesia. Ia harus menjadi ideologi hidup yang tumbuh subur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Seperti pepatah ”adigang - adigung -  adiguna, sopo wani mring ingsun” akan terlihat menyolok sebagai sifat angkuh dan sombong, tetapi apabila didudukkan di koridor cinta tanah air akan menjadi piyandel alias andalan. Ya, nasionalisme bakal menjadi ageman kang sunyoto alias pegangan (ideologi) hidup -- prabowo kang sumebar (wibawa yang bersinar dari pancaran Ilahi) terutama di mata negara-negara lain di dunia.

Tatkala bangsa telah bertekad meraih Indonesia Jaya makmur berkeadilan dan adil berkemakmuran, menjadi mutlak setiap warga mengetahui dan memahami dahulu letak atau tempat-tempat nasionalisme dalam praktek kehidupan sehari-hari. Ibarat ruh yang menempati jasad disebut jiwa, dan ketika keluar namanya almarhum, maka semangat dan jiwa (nasionalisme) yang keluar masuk dalam tarikan nafas warga masyarakat pun harus ada sebutan serta tempat-tempatnya. Maka ideologi hidup yang bernama nasionalisme di Tingkat Pertama, serendah-rendahnya ialah cinta kepada keluarga dan rumah tangganya!
Cinta dan cita-cita (nasionalisme) tahap pertama menuju kesenangan sesuai keinginan, selayaknya digaris bawahi agar tidak sampai berbuat ”salah tempat”. Oleh sebab jika salah dalam meletakkan rasa cinta tanah air di tahapan awal –yang seharusnya untuk keluarga-- namun ternyata di letakkan pada tempat lain akan membuat diri warga "teraniaya". Kerukunan bisa goyah, rasa guyup dan kenyamanan akan menjadi bubrah.
Kuncinya mudah dan sederhana yakni ketepatan dalam menempatkan semangat nasionalisme pada tingkatan awal merupakan pokok landasan bagi tingkat-tingkat nasionalisme di atasnya.
Sedang tempat atau Tingkat Kedua dari nasionalisme yakni : Amanah. Amanah dalam pengertian berbuat dan taat hukum. Terutama amanah dalam perilaku atas perbuatan diri masing-masing dan keluarga demi ketentraman lingkungan serta taat terhadap hukum positif yang berlaku.
Seringkali demi sesuap nasi, warga bekerja untuk kestabilan harkatnya sebagai manusia, kemudian lingkungan dan negara menerbitkan aturan hukum. Yang dimaksud aturan disini adalah sarana kendali warga, baik tertulis maupun tidak. Dengan demikian -- hakiki ketaatan hukum adalah dalam rangka menjaga harkat sebagai warga, dan bagi yang tidak taat hukum sesungguhnya harkatnya sebagai warga menjadi turun.
Berikutnya -- perpindahan dari nasionalisme di Tingkat Pertama ke tempat lain (Kedua) disebut DINAMIS. Kata lainnya ialah REINKARNASI. RE asal kata dari bahasa Yunani artinya “sedang”, dan INKAR itu bahasa Arab artinya ”menyalahi janji”, sedang NASI (An Naas) dari bahasa Arab juga artikanya ”manusia”. Dengan demikian maksud reinkarnasi dalam koridor nasionalisme adalah : ”setiap warga yang tengah menyalahi janji pada negara dan diri sendiri”. Akan tetapi hikmah reinkarnasi harus dimaknai sebagai keseimbangan berbasis hukum timbal balik (stabilizer) – merujuk perspektif hukum sebab akibat, bahwa apa yang terjadi di dunia semata- mata karena efeknya. Dengan maksud menjaga tatanan hidup agar para warga lebih bersih dan konsekwen (keseimbangan). Namun bila dikaji lebih dalam adalah guna menyelaraskan warga kepada fitrah sesungguhnya yaitu hukuman atau siksa – tentang konsep pahala atau dosa.
Semua hukum tersebut, baik tertulis (tersurat) maupun tersirat dikenakan terhadap seseorang yang telah melakukan perbuatan, entah sadar atau tidak, entah tahu atau tidak tahu -- semua akan memetik hasil perbuatan itu sendiri.
Ada beberapa local wisdom (kearifan leluhur) bangsa ini tertuang dalam sastra : (1) “urip iki koyo dene mampir ngombe” (hidup ini seperti singgah untuk minum); (2) “wong urip bakal ngunduh wohing budi pakerti” (orang hidup akan memetik buah dari budi pekerti ); (3) “wong salah bakal seleh, wong bener bakal ketenger” (orang yang salah akan hancur, orang benar akan kelihatan).
Agaknya filosofi di atas menegaskan keterangan sebelumnya tentang hasil setiap perilaku nasionalisme Tingkat Pertama yakni cinta terhadap keluarga dan hasil implementasi Tingkat Kedua yakni (amanat) untuk berbuat baik terhadap lingkungan dan taat terhadap hukum positif.
Fuad (bahasa Arab) itu artinya “terbitnya hati”. Inilah yang sering dimaknai dengan NIAT. Ia adalah biji atau benih, atau pada terminologi lain dimaknai REGENERASI. Sedang sastranya berbunyi : “bakal ngunduh woh ing budi pekerti” (setiap diri akan memetik hasil dari perbuayannya); ”Wong salah bakal seleh” (orang salah akan hancur); “Wong bener bakal ketenger” (orang benar pasti terlihat).
Ungkapan tersebut sekedar peringatan kepada warga agar mawas diri atas sepak terjang dan tingkah lakunya. Nilai leluhur menyatakan : “ojo seneng gawe cidra, pungkasane uripe nelongso” (jangan suka membuat kerusakan, akhir hidupnya nelangsa). Itulah Nasionalisme Tingkat Ketiga. Dimana setiap warga wajib mempunyai NIAT dan juga tekad menjadikan Indonesia menjadi negeri makmur berkeadilan dan adil berkemakmuran -- berbasis pada aturan agama.
Fitrah artinya suci (kembali suci). Inilah nuansa yang dicari siapapun jika kelak masa KEMBALI datang menjemput, setelah setiap jiwa warga ber-DINAMIKA dalam kehidupan fana ini – kendati ada yang sadar dan tidak menyadari perihal urgensi kesucian dalam proses kembali nanti.
Dan menuntut ilmu (pakaian/simbol sosial) merupakan kemutlakan bagi setiap diri yang ingin kembali suci. Ibarat berlayar mengarungi lautan, agar tak terlantar, atau tersesat dan terombang-ambing oleh ”ombak kehidupan” – maka sebaik-baiknya perahu selain agama masing-masing warga maka ideologi hidup itu adalah NASIONALISME meski sungguh telah bertebaran ideologi lainnya di muka bumi.
Tumbuhnya kesadaran setiap diri semakin meletakkan bahwa ilmu begitu berperan sebagai cara atau sarana mengurai kehidupan. Tetapi ia bisa berubah menjadi “cambuk” menyakitkan lagi menyiksa jika tanpa landasan ke-TULUS-an yang ternyata berintikan keikhlasan, kesabaran, tawakal, ridho dab lain-lain. Ia merupakan bibit sebuah RASA CINTA yang suci dan murni. Retorikanya adalah : Mungkinkah cintamu dikatakan suci dan murni bila tanpa ketulusan? Oleh karena itu ketulusan adalah prasarana mutlak yang melandasi warga akan cinta terhadap bangsa dan tanah airnya.
Selanjutnya – perpindahan tempat dari Tingkat Ketiga menuju tataran berikutnya (Tingkatan Keempat) disebut KEHENDAK. Bahwa setiap warga harus mempunyai kehendak atas diri, keluarga dan lingkungannya ke arah lebih baik dalam kehidupan bernegara sebagaimana diungkap tadi.
Konsekuensinya ialah setiap pertemuan niscaya ada perpisahan. Demikian hukumnya. Dan bila kita sadar hal itu akan memunculkan beberapa asumsi atau kategori untuk bersikap, antara lain :  (1) bertindak legowo, lalu pasrah dengan keadaan (aku mung sak dermo nglakoni opo sing dadi kehendak Gusti), dan ke (2) ingin terus mempertahankan diri.
Untuk konsekuensi kedua inilah yang sering menimbulkan pertikaian dan konflik baik horisonal maupun vertikal, baik lokal bahkan sampai ke konflik global. Sebaiknya agar dihindari. Oleh karena itu setiap warga hendaknya mengetahui apa yang akan dikerjakan esok hari. Barang siapa mengetahui hal itu, maka termasuk orang yang selamat dan bakal mendapat “salam” dari negaranya.
Lalu, warga semacam apa yang bakal mendapat salam dari negaranya? Jawabannya sederhana adalah warga yang menginginkan keselamatan dimana dalam jiwanya bersemanyam semangat dan perasaan cinta tanah air sebagai ideologi hidup!
Betapa setiap waga negara manapun di muka bumi ini sesungguhnya yang pertama diharapkan ialah ke-SELAMAT-an. Dan itu melekat dalam rasa, jiwa dan semangat nasionalis. Jadi semakin jelas bahwa nasionalisme itu ternyata milik Ibu Pertiwi, milik warga -- bukan milik siapa-siapa.
Dengan demikian, tidak ada kata paling indah bagi kehidupan bernegara selain menerima salam Ibu Pertiwi, dengan menghindari sikap dan perilaku sebagai komprador. Sedangkan komprador menurut Bung Karno adalah gambaran jiwa, niat atau kelompok yang bakal merusak kehidupan berbangsa dan bernegara terdiri atas : (1) Blandis : Kelompok atau kaum yang lebih mempercayai literatur Barat (asing) daripada literatur bangsa sendiri; (2) Kompromis : Kaum yang mementingkan diri dan golongannya daripada kepentingan bangsa dan negara; (3) Reformis : Golongan yang akan merusak sendi-sendi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sekali lagi -- jangan tergantung pada apapun bentuk ideologi, atau siapapun kelompok kecuali kepada nasonalisme. Percayakan dan berikan kesetiaan cintamu hanya untuknya, Ibu Pertiwi – Menuju Indonesia Jaya melalui paham nasionalisme.
Bila mencermati kata demi kata di atas, seperti tersirat sebuah “pesan” sebagaimana pendahulu dan para pendiri republik ini melakukannya. Arti pesan ialah wasiat, baik yang ditinggal maupun akan meninggalkan. Maka inilah PUNCAK jiwa nasionalis setiap warga. Saling berwasiat menuju Indonesia makmur berkeadilan dan adil berkemakmuran ialah Kedudukan Tertinggi dalam koridor nasionalisme suatu bangsa.
Dalam konteks ini, jika wasiatnya bersifat baik maka penerima wasiat disebut amanah (mewarisi amanah). Dan bagi yang menerima hendaknya menjalankan amanah tersebut, namun bila hal keburukan sebagai amanah maka tak wajib melakukannya.
Setiap manusia atau warga, pasti meyakini bahwa akhir lebih baik dari permulaan (khusnul khotimah). Dalam berwasiat hendaknya menghadirkan beberapa saksi. Artinya seberapa besar, atau seberapa penting amanah bagi penerima wasiat adalah tergantung bobot amanah itu sendiri.
Maknanya ialah, bahwa menggulirkan rasa dan jiwa nasionalisme kepada keluarga dan lingkungan terutama meneruskan (mewariskan) kepada para generasi muda yang kelak mengurus Ibu Pertiwi di kemudian hari ialah hal mutlak yang harus diperbuat bagi setiap warga nasionalis.
Ya, ukuran nasionalisme adalah perilaku sesuai kadar di tiap tingkatan. Tidak salah tempat, atau bertentangan dengan hukum positif yang berlaku dan yang pokok ialah berbuat (kebaikan) terhadap lingkungan sekitarnya.
 Akhirnya -- catatan ini ditutup dengan beberapa retorika (hipotesa) filosofi dalam rangka menggugah kesadaran warga bangsa :
  • bagaimana dikatakan cinta, sedang kamu tidak punya perasaan dan tidak pula mengungkapkannya?
  • bagaimana disebut cinta, ketika kamu tak memiliki pengertian apa-apa?
  • pantaskah berkata tentang cinta bila tak pernah berkorban apa-apa?
  • bagaimana mungkin cintamu tulus dan suci, sedang kamu tidak punya program apa-apa?
Menyatakan cinta tanpa kriteria dan persyaratan logika adalah bohong belaka. Seperti remaja dimabuk cinta, itu mungkin cuma emosi jiwa. Ia akan berlalu saat terlena dibuai oleh cinta. Meneriakkan nasionalisme tidak dengan tata krama logika adalah dogma. Apakah dogma ialah keyakinan yang diterima tanpa kritik tanpa selidik. Mungkin soal waktu saja, lambat laun ia berubah basi -- manfaatnya hanya sekedar mitos ataupun stigma.
Oleh sebab itu janganlah berpindah dari satu cinta ke cinta yang lain, atau meloncat dari suatu ideologi ke ideologi lainnya sebelum kamu mengetahui hakikat cinta serta bagaimana bercinta dan bercengkrama dengan jiwa dan rasa nasionalisme!
Sekian dan terimakasih.


Pesan Tersirat :

Check
Read More … Nasionalisme Ideologi Hidup

SALAM PANCASILA

Carut marut berbangsa & bernegara ini atau berbagai anomali yang muncul, seharusnya tidak perlu terjadi bila kita menghayati & memiliki SIKAP  satu bangsa (satu jiwa – satu karakter) untuk melaksanakan amanat penderitaan rakyat yang telah disampaikan oleh para pendahulu kita.

Salah satunya kita simak pernyataan Bung Karno ini : “Aku ingat kepada kaum Kristen, kaum Kristen bukan satu bukan tiga bukan seratus bukan dua ratus, ribuan kaum Kristen mati gugur di dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan ini. Apakah yang menjadi harapan kaum Kristen itu, Saudara – Saudara, yang kita pantas juga menghargai pengorbanan mereka ?. Harapan mereka ialah bahwa mereka bisa bersama – sama dengan kita semuanya menjadi anggota kesatuan bangsa Indonesia yang merdeka. Jangan pakai istilah minoroteit, jangan !(Kuliah Umum di UI, 7 Mei 1953 "Negara Nasional & Cita – Cita Islam"). Makna pernyataan tersebut,  adalah bahwa bangsa ini merupakan suatu keniscayaan yang dibangun di atas sendi bhinneka tunggal ika”, unitas in plurifate, kepelangian, keberagaman, keaneka ragaman, atau e pharibus unum dari ratusan suku bangsa yang praktis memiliki multi kulturalisme, suatu keberagaman.

Namun mengapa justru ditentang oleh anak – anak bangsanya sendiri khususnya kelompok garis keras yang selalu berusaha ingin menyeragamkan adanya keberagaman adi kodratinnya itu serta merasa paling benar adalah merupakan ancaman pluraslisme itu sendiri. UU Pornografi No. 34/2008 yang disahkan pada 30 Oktober 2008 adalah salah satu contoh belum lagi pengharaman tentang pluralisme oleh MUI. Kita lupa bahwa : ”Morality can not be legislated but behavior can be regulated”.
Di era itu nampak jelas bahwa semangat, jiwa dan ruh kemerdekaan sedang berproses ke hogore optrekking, sehingga lagu mars PNI “Indonesia Raya” oleh Bung Karno dijadikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang digubah oleh komponis Wage Rudolf Supratman yang menekankan adanya suatu esensi tentang pembangunan (ruh, jiwa dan raga) : “Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”!

Esensi pembangunan tersebut seirama dengan yang dirasakan pula oleh Bung Karno sehingga secara pajang lebar, ia memberikan statemennya seperti  : “Kita punya perjuangan pada hakekatnya  adalah perjuangan roch , ia adalah perjuangan semangat , ia adalah perjuangan geest. Ia ialah suatu perjuangan yang pada awalnya lebih dulu harus menaruh alas – alas dan sendi – sendinya tiap – tiap perbuatan dan usaha yang harus kita lakukan untuk mencapai kemerdekaan itu; alas – alas yang berupa Roh – Merdeka dan Semangat Merdeka, yang harus dan musti kita bangun – bangunkan, harus dan musti kita hidup – hidupkan  dan kita bangkit – bangkitkan, bila mana kita ingin akan hasilnya fiil tahadi. Sebab selama roh & semangat itu belum bangun dan hidup serta bangkit, selama Roh dan Semangat yang berada dalam hati sanubari kita masih mati, selama Roh itu masih Roh Perbudakan, selama itu akan sia – sialah perbuatan dan usaha kita, ya, selama itu tidak dapatlah kita melahirkan suatu perbuatan dan usaha yang luhur. Sebab perbuatan tidak bisa luhur & besar, jikalau ia tidak terpikul oleh Roh & Semangat yang luhur dan besar pula adanya”! (Melihat Kemuka, Suluh Indonesia Muda, 1938). Juga masalah jiwa dan roh kemerdekaan tersebut bergelora pula dalam pembahasan – pembahasan pada sidang BPUPKI yang berlangsung dari  29 Mei 1945 – 7 Agustus 1945.

Oleh sebab itu revolusi dan perjuangan terus berlanjut dan sejarah bangsa terus saja bergulir seiring kodratinya sesuai dengan derap dan langkah evolusinya jaman yang dinamakan "perfection perfected" (menyempurnakan yang telah sempurna) yang merupakan kejadian penyempurnaan hayati umat manusia bangsa Indonesia ini, sebab umat manusia itu adalah produk TUHAN yang belum selesai (unfinish product) dan yang senantiasa nyakra - manggilingan, terdaur kembali, manitis atau tumimbal balik yang disebut juga dengan reinkarnasi.



Pesan Tersirat :
Read More … SALAM PANCASILA

Laporan Kegiatan




Sabtu 4 Juni 2011, bertempat di dirumah Sujud P di Turen, Panitia Peringatan Pancasila 1 Juni mengadakan rapat laporan kegiatan yang beberapa hari lalu dilaksanakan di Hotel Santana Kepanjen.

Dalam Rapat yang dipimpin Kusnadi, dilaporkan bahwa kegiatan peringatan tersebut diikuti oleh 160 orang yang mengisi daftar hadir dan beberapa tidak mengisi daftar hadir. Peserta berasal dari Malang Raya dengan sebaran generasi muda usia SMA, Mahasiswa (rekan-rekan GMNI  Malang Raya), Mahasiswa/i, Unsur Pengurus Parpol kec. Kepanjen, dan generasi tua seusia Miskat.

Dalam kegiatan yang diisi dengan sarasehan dengan nara sumber Marsudi Fandi Negara (Dulu DPRRI Fraksi PDI) dan Jati Kusumo (Budayawan), menghasilkan rekomendasi kepada pemerintah untuk menjadikan Pendidikan PANCASILA dimasukkan dalam Kurikulum dan tidak hanya disisipkan pada pelajaran lainnya. Dalam acara tersebut juga diisi masukan dari Moh geng wahyudi dan Sujud Pribadi, guna melestarikan ajaran Pancasila

Kegiatan yang dimulai pukul 21.00 hingga 24.10 dilanjutkan Ziarah ke Makam Proklamator diikuti beberapa peserta sarasehan.

Dalam rapat disepakati bahwa sisa anggaran digunakan untuk mencetak baner dan bantua biaya awal bagi yang akan mengadakan kegiatan di kecamatan lainnya dan untuk kegiatan yang berikutnya akan dibentuk panitia baru dengan personal baru sehingga semua mampu berbuat untuk negeri ini dengan dibantu oleh personal lainnya.
Berikut Laporan Pendanaan dari Kegiatan tersebut
Bantua Berupa Barang
- 250 buah Undangan
- 1 buah stempel kegiatan
- Tempat dan Sound System
- Karpet
- Selebaran 500 exp

Bantuan Dana
- 25 Mei 2011                             Rp 1.500.000,-
- 30 Mei 2011                             Rp 1.000.000,-
- 31 Mei 2011                             Rp.   200.000,-
- 31 Mei 2011                             Rp.   800.000,-
- 31 Mei 2011                             Rp.   250.00,-
- 31 Mei 2011                             Rp.    50.000,-      TOTAL Rp. 3.800.000,-

Biaya
- 300 Kotak Snack                           Rp.  756.000,-
- 3 Buah Spanduk                            Rp.  600.000,-  (1,3mtr  X 8 mtr)
- 1 Buah BackGround                       Rp.  160.000,-
- ATK                                             Rp.     44.500,-
- Tampar 1 roll                                 Rp.    65.000,-
- Kossumsi pasang Spanduk              Rp.     30.000,-
- Air Minum (Gelas)                         Rp.  135.000,-
- Ongkos Angkut Snack                    Rp.    10.000,-
- Keamanan/ parkir                           Rp.  150.000,
- Bunga tabur                                   Rp.   10.000,    TOTAL. Rp. 1.960. 500,-


 SISA ANGGARAN                                                              Rp. 1.839.500,- 

Bagi yang sudah membantu dan belum tercatat mohon konfirmasi melalui telpon/ langsung ditulis di kolom komentar dibawah
Terimakasih kepercayaan yang diberikan kepada kami dan semoga kepanitiaan yang berikutnya dapat melaksanakan dengan baik

Pesan Tersirat : Segala sesuatu dapat terlaksana dengan GOTONG ROYONG dan keterbukaan
Read More … Laporan Kegiatan

PIDATO BUNG KARNO 1 JUNI 1945 (SEJARAH LAHIRNYA PANCASILA)

Menjelang kekalahannya di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Badan ini mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945, dengan acara tunggal menjawab pertanyaan Ketua BPUPKI, Dr. KRT Radjiman Wedyo diningrat, “Indonesia merdeka yang akan kita dirikan nanti, dasarnya apa?”

Hampir separuh anggota badan tersebut menyampaikan pandangan-pandangan dan pendapatnya. Namun belum ada satu pun yang memenuhi syarat suatu sistem filsafat dasar untuk di atasnya dibangun Indonesia Merdeka.

Pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia Merdeka, yang dinamakannya Pancasila. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai.

Selanjutnya BPUPKI membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno itu. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. Soekarno, Muhammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikusno Tjokrokusumo, Abdulkahar Muzakir, HA Salim, Achmad Soebardjo dan Muhammad Yamin) yang bertugas “merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkn Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen tiu sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.”

Demikianlah, lewat proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya Pancasila penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia Merdeka pada tanggal 18 Agustus 1945 (Diambil dari Pancasila Bung Karno, Paksi Bhinneka Tunggal Ika, 2005).

Inilah pidato yang bersejarah itu…


***

Paduka Tuan Ketua Yang Mulia!

Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka Tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pendapat saya. Saya akan menetapi permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia. Apakah permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia? Paduka Tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini.

Maaf beribu maaf! Banyak anggota telah berpidato, dan di dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka Tuan Ketua yang mulia ialah – dalam bahasa Belanda – Philosofische grondslag (dasar filosofi-Ed.) dari Indonesia Merdeka. Philosofische grondslag itulah fondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saya kemukakan, Paduka Tuan Ketua yang mulia. Tetapi lebih dahulu izinkanlah saya membicarakan, memberitahukan kepada Tuan-Tuan sekalian, apakah yang saya artikan dengan perkataan “merdeka”.

“Merdeka” buat saya adalah political independence, politieke onafhankelijkheid (kemerdekaan politik, dalam bahasa Inggris dan Belanda-Ed.). Apakah yang dinamakan politieke onafhankelijkheid?

Tuan-tuan sekalian! Dengan terus-terang saja saya berkata: Tatkala Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai akan bersidang, maka saya, di dalam hati saya banyak khawatir, kalau-kalau banyak anggota yang – saya katakan di dalam bahasa asing, maafkan perkataan ini – zwaarwichtig (seolah-olah amat berat, dalam bahasa Belanda-Ed.) akan perkara-perkara kecil. Zwaarwichtig sampai – kata orang Jawa – jelimet (dengan teliti, rinci dan lengkap, dalam bahasa Jawa-Ed.). Jikalau sudah membicarakan hal yang kecil-kecil sampai jelimet, barulah mereka berani menyatakan kemerdekaan.

Tuan-tuan yang terhormat! Lihatlah di dalam sejarah dunia, lihatlah kepada perjalanan dunia itu.

Banyak sekali negara-negara yang merdeka, tetapi bandingkanlah kemerdekaan negara-negara itu satu sama lain! Samakah isinya, samakah derajatnya negara-negara yang merdeka itu? Jermania merdeka, Saudi Arabia merdeka, Iran merdeka, Tiongkok merdeka, Nippon merdeka, Amerika merdeka, Inggris merdeka, Rusia merdeka, Mesir merdeka. Namanya semuanya merdeka, tetapi bandingkanlah isinya!

Alangkah bedanya isi itu! Jikalau kita berkata: Sebelum negara merdeka, maka harus lebih dahulu ini selesai, itu selesai, itu selesai sampai jelimet, maka saya bertanya kepada Tuan-tuan sekalian kenapa Saudi Arabia merdeka, padahal 80 persen dari rakyatnya terdiri dari kaum Badui, yang sama sekali tidak mengerti akan hal ini atau itu.

Bacalah buku Armstrong yang menceriterakan tentang Ibn Saud! Di situ ternyata, bahwa tatkalah Ibn Saud mendirikan pemerintahan Saudi Arabia, rakyat Arabia sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil perlu minum bensin. Pada suatu hari otomobil Ibn Saud dikasih makan gandum oleh orang-orang Badui di Saudi Arabia itu! Toh Saudi Arabia merdeka!

Lihatlah pula – jikalau Tuan-tuan kehendaki contoh yang lebih hebat – Sovyet Rusia! Pada masa Lenin mendirikan Negara Sovyet, adakah rakyat Sovyet sudah cerdas? Seratus lima puluh milyun rakyat Rusia adal rakyat Musyik (golongan yang percaya adanya Tuhan, tetapi tak menganut suatu agama-Ed.) yang lebih dari 80 persen tidak dapat membaca dan menulis; bahkan dari buku-buku yang terkenal dari Leo Tolstoi dan Fulop Miller, Tuan-tuan mengetahui betapa keadaan rakyat Sovyet Rusia pada waktu Lenin mendirikan negara Sovyet itu. Dan kita sekarang di sini mau mendirikan Negara Indonesia Merdeka. Terlalu banyak macam-macam soal kita kemukakan!

Maaf, Paduka Tuan Zimukyokutyoo (Kepala Kantor Tata Usaha untuk Lembaga Tinggi, dalam bahasa Jepang, yang berada di bawah pemerintah militer Jepang untuk mengurus persiapan sidang-sidang BPUPKI-Ed.)! Berdirilah saya punya bulu, kalau saya membaca Tuan punya surat, yang minta kepada kita supaya dirancangkan sampai jelimet hal ini dan itu dahulu semuany! Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu, sampai jelimet, maka saya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, Tuan tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, kita semuanya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka… sampai di lubang kubur!

(Tepuk tangan riuh)

Saudara-saudara! Apakah yang dinamakan merdeka? Di dalam tahun 1933 saya telah menulis satu risalah. Risalah yang bernama Mencapai Indonesia Merdeka. Maka di dalam risalah tahun 1933 itu, telah saya katakan, bahwa kemerdekaan, politieke onafhkelijkheid, political independence, tak lain dan tak bukan, ialah satu jembatan, satu jembatan emas. Saya katakan di dalam kitab itu, bahwa di seberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat.

Ibn Saud mengadakan satu negara di dalam satu malam – in one night only – kata Armstrong di dalam kitabnya. Ibn Saud mendirikan Saudi Arabia Merdeka di satu malam sesudah ia masuk kota Riyadh dengan 6 orang! Sesudah “jembatan” itu diletakkan Ibn Saud, maka di seberang jembatan – artinya kemudian dari pada itu – Ibn Saud barulah memperbaiki masyarakat Saudi Arabia. Orang yang tidak dapat membaca diwajibkan belajar membaca, orang yang tadinya bergelandangan sebagai nomade (suku yang berpindah-pindah tempat, atau pengembara, dalam bahasa Belanda-Ed.), yaitu orang Badui, diberi pelajaran oleh Ibn Saud jangan bergelandangan, dikasih tempat untuk bercocok-tanam. Nomade dirubah lagi oleh Ibn Saud menjadi kaum tani – semuanya di seberang jembatan.

Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Sovyet-Rusia Merdeka telah mempunyai Dneprprostoff, dam yang maha besar di sungai Dnepr? Apa ia telah mempunyiai radio-station, yang menyundul ke angkasa? Apa ia tel mempunyai kereta-kereta api cukup, untuk meliputi seluruh negara Rusia? Apakah tiap-tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Sovyet-Rusia Merdeka telah dapat membaca dan menulis? Tidak, Tuan-tuan yang terhormat! Di seberang jembatan emas yang diadakan oleh Lenin itulah, Lenin baru mengadakan radio-station, baru mengadakan sekolahan, baru mengadakan creche (tempat penitipan bayi dan anak-anak pada waktu orangtua bekerja-Ed.), baru mengadakan Dneprprostoff! Maka oleh karena itu saya minta kepada Tuan-tuan sekalian, janganlah Tuan-tuan gentar di dalam hati, janganlah mengingat bahwa ini dan itu lebih dulu harus selesai dengan jelimet, dan kalau sudah selesai, baru kita dapat merdeka. Alangkah berlainannya Tuan-tuan punya semangat – jikalau Tuan-tuan demikian – dengan semangat pemuda-pemuda kita yang 2 milyun banyaknya. Dua milyun ini menyampaikan seruan pada saya, 2 milyun pemuda ini semua berhasra Indonesia Merdeka sekarang!

(Tepuk tangan-riuh)

Saudara-saudara, kenapa kita sebagai pemimpin rakyat, yang mengetahui sejarah, menjadi zwaarwichtig, menjadi gentar, padahal semoboyan Indonesia Merdeka bukan sekarang saja kita siarkan? Berpuluh-puluh tahun yang lalu, kita telah menyiarkan semboyan Indonesia Merdeka, bahkan sejak tahun 1932 dengan nyata-nyata kita mempunyai semboyan “INDONESIA MERDEKA SEKARANG”. Bahkan 3 kali sekarang, yaitu Indonesia Merdeka sekarang, sekarang, sekarang!

(Tepuk tangan-riuh)

Dan sekarang kita menghadapi kesempatan untuk menyusun Indonesia Merdeka, kok lantas kita zwaarwichtig dan gentar-hati! Saudara-saudara, saya peringatkan sekali lagi, Indonesia Merdeka, political independence, politieke onafhankelijkheid, tidak lain dan tidak bukan ialah satu jembatan! Jangan gentar!

Jikalau umpamanya kita pada saat sekarang ini diberikan kesempatan oleh Dai Nippon (Kekaisaran Jepang Raya-Ed.) untuk merdeka, maka dengan mudah Gunseik-kan (Kepala Pemerintahan Militer Tentara Pendudukan Jepang-Ed.) diganti dengan orang yang bernama Tjondro Asmoro, atau Soomubutyoo (Kepala Departemen Urusan Umum-Ed.) diganti dengan orang yang bernama Abdul Halim. Jikalau umpamanya Butyoo-Butyoo (Kepala Departemen-Ed.) diganti dengan orang-orang Indonesia, pada sekarang ini, sebenarnya kita telah mendapat political independence, politieke onafhankelijkheid – in one night, di dalam satu malam!

Saudara-saudara, pemuda-pemuda yang 2 milsiyun, semuanya bersemboyan: Indonesia Merdeka, sekarang! Jikalau umpamanya Balatentara Dai Nippon, sekarang menyerahkan urusan negara kepada Saudara-saudara, apakah Saudara-saudara akan menolak, serta berkata: mangke rumiyin – tunggu dulu – minta ini dan itu selesai dulu, baru kita berani menerima urusan negara Indonesia Merdeka?

(Seruan: Tidak! Tidak!)

Saudara-saudara, kalau umpamanya pada saat sekarang ini Balatentara Dai Nippon menyerahkan urusan negara kepada kita, maka satu menit pun kita tidak akan menolak, sekarang pun kita menerima urusan itu, sekarang pun kita mulai dengan negara Indonesia yang Merdeka!

(Tepuk tangan menggemparkan)

Saudara-saudara, tadi saya berkata, ada perbedaan antara Sovyet-Rusia, Saudi Arabia, Inggris, Amerika dan lain-lain, tentang isinya. Tetapi ada satu yang sama, yaitu rakyat Saudi Arabia sanggup mempertahankan negaranya. Musyik-musyik di Rusia sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Amerika sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Inggris sanggup mempertahankan negaranya. Inilah yang menjadi minimum-eis (tuntutan minimum, dalam bahasa Belanda-Ed.). Artinya, kalau ada kecakapan yang lain, tentu lebih baik, tetapi manakala sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negerinya dengan darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing, Saudara-saudara, semua siap sedia mati, mempertahankan tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap-sedia, masak untuk Merdeka.

(Tepuk tangan riuh)

Cobalah pikirkan hal ini dengan memperbandingkannya dengan manusia. Manusia pun demikian, Saudara-saudara! Ibaratnya, kemerdekaan saya bandingkan dengan perkawinan. Ada yang berani kawin, lekas berani kawin, ada yang takut kawin. Ada yang berkata: Ah, saya belum berani kawin, tunggu dulu gaji 500 gulden. Kalau saya sudah mempunyai rumah gedung, sudah ada permadani, sudah ada lampu listrik, sudah mempunyai tempat tidur yang mentul-mentul (memantul, dalam bahasa Jawa-Ed.), sudah mempunyai meja-kursi yang selengkap-lengkapnya, sudah mempunyai sendok garpu perak satu kaset, sudah mempunyai ini dan itu, bahkan sudah mempunyai kinder-uitzet (pakaian untuk anak-anak, dalam bahasa Belanda-Ed.), barulah saya berani kawin.

Ada orang lain yang berkata: Saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai meja satu, kursi empat – yaitu meja mkan, lantas satu zitje (tempat duduk untuk bersantai, dalam bahasa Belanda-Ed.) – lantas satu tempat tidur.

Ada orang yang lebih berani lagi dari itu, yaitu Saudara-saudara Marhaen! Kalau dia sudah mempunyai gubug saja dengans satu tikar, dengan satu periuk: dia kawin. Marhaen dengan satu tikar, satu gubug: kawin. Sang klerk (jurutulis, dalam bahasa Belanda-Ed.) dengan satu meja, empat kursi, satu zitje, satu tempat tidur: Kawin.

Sang Ndoro (atau Bandoro, berarti majikan atau tuan, dalam bahasa Jawa-Ed.) yang mempunyai rumah gedung, electrische-kookplaat (alat masak listrik, dalam bahasa Belanda-Ed.), tempat tidur, uang bertimbun-timbun: Kawin. Belum tentu mana yang lebih gelukkig (berbahagia, dalam bahasa Belanda-Ed.), belum tentu mana yang lebih bahagia, Sang Ndoro dengan tempat tidurnya yang mentul-mentul, atau Sarinem dan Samiun yang hanya mempunyai satu tikar dan satu periuk, Saudara-saudara!

(Tepuk tangan dan tertawa)

Tekad hatinya yang perlu, tekad hatinya Samiun kawin dengan satu tikar dan satu periuk, dan hati Sang Ndoro yang baru berani kawin kalau sudah mempunyai gerozilver (peralatan makan dari perak, dalam bahasa Belanda-Ed.) satu kaset plus kinder-uitzet – buat 3 tahun lamanya!

(Tertawa)

Saudara-saudara, soalnya adalah demikian: Kita ini berani merdeka atau tidak? Inilah, Saudara-saudara sekalian, Paduka Tuan Ketua yang mulia, ukuran saya yang terlebih dulu saya kemukakan sebelum saya bicarakan hal-hal yang mengenai dasarnya satu negara yang merdeka. Saya mendengar uraian Paduka Tuan Soetardjo beberapa hari yang lalu, tatkala menjawab apakah yang dinamakan merdeka, beliau mengatakan: Kalau tiap-tiap orang di dalam hatinya telah merdeka, itulah kemerdekaan. Saudara saudara, jika tiap-tiap orang Indonesia yang 70 milyun ini lebih dulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita dapat mencapai political independence… saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia Merdeka!

(Tepuk tangan riuh)

Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita! Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan hatinya bangsa kita! Di dalam Saudi Arabia Merdeka, Ibn Saud memerdekakan rakyat Arabia satu per satu. Di dalam Sovyet-Rusia Merdeka Stalin memerdekakan hati bangsa Sovyet-Rusia satu per satu.

Saudara-saudara! Sebagai juga salah seorang pembicara berkata, kita bangsa Indonesia tidak sehat badan, banyak penyakit malaria, banyak disentri, banyak penyakit hongerudeem (penyakit busung lapar, dalam bahasa Belanda-Ed.), banyak ini banyak itu. “Sehatkan dulu bangsa kita, baru kemudian merdeka.”

Saya berkata, kalau ini pun harus diselesaikan lebih dulu, 20 tahun lagi kita belum merdeka. Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita menyatukan rakyat kita, walaupun misalnya tidak dengan kinine, tetapi kita kerahkan segenap masyarakat kita untuk menghilangkan penyakit malaria dengan menanam ketepeng kerbau. Di dalam Indonesia Merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya menjadi kuat, di dalam Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baiknya. Inilah maksud saya dengan perkataan “jembatan”. Di seberang jembatan – jembatan emas – inilah baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia Merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi.

Tuan-tuan sekalian! Kita sekarang menghadapi satu saat yang maha penting. Tidakkah kita mengetahui, sebagaimana telah diutarakan oleh berpuluh-puluh pembicara, bahwa sebenarnya international recht – hukum internasional – menggampangkan pekerjaan kita? Untuk menyusun, mengadakan, mengakui satu negara yang merdeka, tidak diadakan syarat yang neko-neko (macam-macam, dalam bahasa Jawa-Ed.), yang jelimet. Tidak! Syaratnya sekedar bumi, rakyat, pemerintah yang teguh! Ini sudah cukup untuk international recht. Cukup, Saudara-saudara. Asal ada buminya, ada rakyatnya, ada pemerintahnya, kemudian diakui oleh salah satu negara lain yang merdeka, itulah yang sudah bernama: Merdeka. Tidak peduli rakyat dapat baca atau tidak, tidak peduli rakyat hebat ekonominya atau tidak, tidak peduli rakyat bodoh atau pintar, asal menurut hukum internasional mempunyai syarat-syarat suatu negara merdeka, yaitu ada rakyatnya, ada buminya dan ada pemerintahannya – sudahlah ia merdeka.

Janganlah kita gentar, zwaarwichtig, lantas mau menyelesaikan lebih dulu 1001 soal yang bukan-bukan! Sekali lagi saya bertanya: Mau merdeka apa tidak? Mau merdeka apa tidak?

(Jawab hadirin: Mau!)

Saudara-saudara! Sesudah saya bicarakan tentang hal “merdeka”, maka sekarang saya bicarakan tentang hal “dasar”.

Paduka Tuan Ketua yang mulia! Saya mengerti apakah yang Paduka Tuan Ketua kehendaki! Paduka Tuan Ketua minta dasar, minta philosofische grondslag, atau – jikalau kita boleh memakai perkataan yang muluk-muluk – Paduka Tuan Ketua yang mulia meminta suatu Weltanschauung (pandangan hidup, dalam bahasa Jerman-Ed.), di atas mana kita mendirikan negara Indonesia itu.

Kita melihat dalam dunia ini, bahwa banyak negeri-negeri yang merdeka, dan banyak di antara negeri-negeri yang merdeka itu berdiri di atas suatu Weltanschauung. Hitler mendirikan Jermania di atas national sozialistische Weltanschauung – filsafat nasional-sosialisme telah menjadi dasar negara Jermania yang didirikan oleh Adolf Hitler itu. Lenin mendirikan negara Sovyet di atas satu Weltanschauung, yaitu Marxistische, Historisch-Materialistische Weltanschauung. Nippon mendirikan negara Dai Nippon di atas satu Weltanschauung, yaitu yang dinamakan Tenno Koodoo Seishin. Di atas Tenno Koodoo Seishin inilah negara Dai Nippon didirikan. Saudi Arabia, Ibn Saud, mendirikan negara Arabia di atas suatu Weltanschauung – bahkan di atas satu dasar agama – yaitu Islam. Demikian itulah yang diminta oleh Paduka Ketua yang mulia: Apakah Weltanschauung kita, jikalau kita hendak mendirikan Indonesia yang merdeka?

Tuan-tuan sekalian, Weltanschauung ini sudah lama harus kita bulatkan di dalam hati kita dan di dalam pikiran kita, sebelum Indonesia Merdeka datang. Idealis-idealis di seluruh dunia bekerja mati-matian untuk mengadakan bermacam-macam Weltanschauung, bekerja mati-matian untuk me-realiteit-kan Weltanschauung mereka itu. Maka oleh karena itu, sebenarnya tidak benar perkataan anggota yang terhormat Abikoesno, bila beliau berkata, bahwa banyak sekali negara-negara merdeka didirikan dengan isi seadanya saja, menurut keadaan. Tidak! Sebab misalnya, walaupun menurut perkataan John Reed, “Sovyet-Rusia didirikan dalam 10 hari oleh Lenin cs.” – Reed di dalam kitabnya Ten days that shook the world, Sepuluh hari yang menggoncangkan dunia… walaupun Lenin mendirikan Rusia dalam 10 hari, tetapi Weltanschauung-nya telah tersedia berpuluh-puluh tahun. Terlebih dulu telah tersedia Weltanschauung-nya, dan di dalam 10 hari itu hanya sekedar direbut kekuasaan, dan ditempatkan negara baru itu di atas Weltanschauung yang sudah ada. Dari 1895 Weltanschauung itu telah disusun. Bahkan dalam revolusi 1905, Weltanschauung itu “dicobakan”, di-generale-repetitie-kan.

Lenin di dalam revolusi tahun 1905 telah mengerjakan apa yang dikatakan oleh beliau sendiri generale-repetitie dari revolusi tahun 1917. Sudah lama sebelum tahun 1917, Weltanschauung itu disedia-sediakan, bahkan diikhtiar-ikhtiarkan. Kemudan, hanya dalam 10 hari, sebagai dikatakan oleh John Reed… hanya dalam 10 hari itulah didirikan negara baru, direbut kekuasaan, ditaruh kekuasaan itu di atas Weltanschauung yang telah berpuluh-puluh tahun umurnya itu. Tidakkah pula Hitler demikian?

Di dalam tahun 1933 Hitler menaiki singgasana kekuasaan, mendirikan negara Jermania di atas National-sozialistische Weltanschauung.

Tetapi kapankah Hitler mulai menyediakan dia punya Weltanschauung itu? Bukan di dalam tahun 1933, tetapi di dalam tahun 1921 dan 1922 beliau telah bekerja, kemudian mengikhtiarkan pula, agar supaya Naziisme ini – Weltanschauung ini – dapat menjelma dengan dia punya Munchener Putsch, tetapi gagal. Di dalam 1933 barulah datang saatnya beliau dapat merebut kekuasaan dan negara diletakkan oleh beliau di atas dasar Weltanschauung yang telah dipropagandakan berpuluh-puluh tahun itu.

Maka demikian pula, jika kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka, Paduka Tuan Ketua, timbullah pertanyaan: Apakah Weltanschauung kita, untuk mendirikan negara Indonesia Merdeka di atasnya? Apakah nasional-sosialisme? Apakah historisch-materialisme? Apakah San Min Chu I, sebagai dikatakan oleh Doktor Sun Yat Sen?

Di dalam tahun 1912 Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok merdeka, tetapi Weltanschauung-nya telah dalam tahun 1885 – kalau saya tidak salah – dipikirkan, dirancangkan. Di dalam buku The Three People’s Principles, San Min Chu I – Mintsu, Minchuan, Min Sheng: Nasionalisme, demokrasi, sosialisme – telah digambarkan oleh Dr. Sun Yat Sen Weltanschauung itu, tetapi baru dalam tahun 1912 beliau mendirikan negara baru di atas Weltanschauung San Min Chu I itu, yang telah disediakan terdahulu berpuluh-puluh tahun.

Kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka di atas Weltanschauung apa? Nasional-sosialisme-kah? Marxisme-kah? San Min Chu I-kah, atau Weltanschauung apakah?

Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak pikiran telah dikemukakan – macam-macam – tetapi alangkah benarnya perkataan dr. Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadi-Koesoemo, bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan paham. Kita bersama-sama mencarai persatuan philosofische grondslag, mencari satu Weltanschauung yang kita semua setuju. Saya katakan lagi “setuju”! Yang Saudara yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hadjar setujui, yang Saudara Sanoesi setujui, yang Saudara Abikoesno setujui, yang Saudara Liem Koen Hian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus. Tuan Yamin, ini bukan kompromis, tetapi kita bersama-sama mencari satu hal yang kita bersama-sama setujui. Apakah itu?

Pertama-tama, Saudara-saudara, saya bertanya: Apakah kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan? Mendirikan negara Indonesia Merdeka yang namanya saja Indonesia Merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan?

Apakah maksud kita begitu? Sudah tentu tidak! Baik Saudara-saudara yang bernama kaum Kebangsaan yang di sini, maupun Saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan negara yang demikian itulah yang kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara “semua buat semua”. Inilah salah satu dasar pikiran yang nanti akan saya kupas lagi. Maka, yang selalu mendengung di dalam saya punya jiwa, bukan saja di dalam beberapa hari di dalam sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai ini, akan tetapi sejak tahun 1918… ialah: Dasar pertama, yang baik dijadikan dasar buat negara Indonesia, ialah dasar Kebangsaan.

Kita mendirikan satu Negara Kebangsaan Indonesia.

Saya minta, Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo dan Saudara-saudara Islam lain, maafkanlah saya memakai perkataan “kebangsaan” ini! Saya pun orang Islam. Tetapi saya minta kepada Saudara-saudara, janganlah Saudara-saudara salah paham jikalau saya katakan bahwa dasar pertama buat Indonesia ialah dasar kebangsaan. Itu bukan berarti kebangsaan dalam arti yang sempit, tetapi saya menghendaki satu nationale staat (negara nasional, dalam bahasa Belanda-Ed.), seperti yang saya katakan dalam rapat di Taman Raden Saleh beberapa hari yang lalu. Satu Nationale Staat Indonesia bukan berarti staat yang sempit. Sebagai Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo katakan kemarin, maka Tuan adalah orang bangsa Indonesia, bapak Tuan pun adalah orang Indonesia, nenek moyang Tuan pun bangsa Indonesia. Di atas satu kebangsaan Indonesia, dalam arti yang dimaksudkan oleh Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo itulah, kita dasarkan negara Indonesia.

Satu Nationale Staat! Hal ini perlu diterangkan lebih dahulu, meski saya di dalam rapat besar di Taman Raden Saleh sedikit-sedikit telah menerangkannya. Marilah saya uraikan lebih jelas dengan mengambil tempo sedikit: Apakah yang dinamakan bangsa? Apakah syaratnya bangsa?

Menurut Renan (Ernest Renan, pemikir orientalis Perancis-Ed.), syarat bangsa ialah “kehendak akan bersatu”. Perlu orang-orangnya merasa diri bersatu dan mau bersatu.

Ernest Renan menyebut syarat bangsa: le desir d’etre ensemble, yaitu kehendak akan bersatu. Menurut definisi Ernest Renan, maka yang menjadi bangsa, yaitu gerombolan manusia yang mau bersatu, yang merasa dirinya bersatu.

Kalau kita lihat definisi orang lain – yaitu definisi Otto Bauer (pemikir dan teoritikus Partai Sosial Demokrat Austria-Ed.) – di dalam bukunya, Die Nationalitatenfrage, di situ ditanyakan: Was ist eine Nation? Dan dijawabnya ialah: Eine Nation ist eine aus Schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft (bangsa adalah satu persatuan perangai yang timbul karena persatuan nasib-Ed.). Inilah menurut Otto Bauer satu natie.

Tetapi kemarin pun, tatkala – kalau tidak salah – Prof. Soepomo mensitir Ernest Renan, maka anggota yang terhormat Mr.Yamin berkata: Verouderd! Sudah tua! Memang Tuan-tuan sekalian, definisi Ernest Renan sudah verouderd, sudah tua. Definisi Otto Bauer pun sudah tua. Sebab tatkala Ernest Renan mengadakan definisinya itu, tatkala Otto Bauer mengadakan definisinya itu, tatkala itu belum timbul satu wetenschap baru, satu ilmu baru, yang dinamakan geo-politik.

Kemarin – kalau tidak salah – Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo, atau Tuan Moenandar, mengatakan tentang “persatuan antara orang dan tempat”. Persatuan antara orang dan tempat, Tuan-tuan sekalian, persatuan antara manusia dan tempatnya!

Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya. Ernest Renan dan Otto Bauer hanya sekedar melihat orangnya. Mereka hanya memikirkan Gemeinschaft-nya (persamaan atau persatuannya, dalam bahasa Jerman-Ed.) dan perasaan orangnya, l’ame et le desir (jiwa dan kehendaknya, dalam bahasa Perancis-Ed.) Mereka hanya mengingat karakter, tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi, bumi yang didiami manusia itu. Apakah tempat itu? Tempat itu yaitu tanah air. Tanah air itu adalah satu kesatuan. Allah s.w.t membuat peta dunia, menyusun peta dunia. Kalau kita melihat peta dunia, kita dapat menunjukkan di mana “kesatuan-kesatuan” di situ. Seorang anak kecil pun – jikalau ia melihat peta dunia – ia dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan. Pada peta itu dapat ditunjukkan satu kesatuan gerombolan pulau-pulau di antara 2 lautan yang besar, Lautan Pasifik dan Lautan Hindia, dan di antara 2 benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia. Seorang anak kecil dapat mengatakan, bahwa pulau-pulau Jawa, Sumatera, Borneo, Selebes, Halmahera, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku dan lain-lain pulau kecil di antaranya, adalah satu kesatuan. Demikan pula tiap-tiap anak kecil dapat melihat pada peta bumi, bahwa pulau-pulau Nippon yang membentang pada pinggir timur Benua Asia sebagai golfbreker atau penghadang gelombang lautan Pasifik, adalah satu kesatuan.

Anak kecil pun dapat melihat, bahwa tanah India adalah satu kesatuan di Asia Selatan, dibatasi oleh Lautan Hindia yang luas dan Gunung Himalaya. Seorang anak kecil pula dapat mengatakan, bahwa kepulauan Inggris adalah satu kesatuan.

Griekenland atau Yunani dapat ditunjukkan sebagai satu kesatuan pula. Itu ditaruhkan oleh Allah SWT demikian rupa. Bukan Sparta saja, bukan Athena saja, bukan Macedonia saja, tetapi Sparta plus Athena plus Macedonia plus daeraha Yunani yang lain-lain – segenap kepulauan Yunani – adalah satu kesatuan.

Maka manakah yang dinamakan tanah tumpah darah kita, tanah air kita? Menurut geopolitik, maka Indonesialah tanah air kita. Indonesia yang bulat – bukan Jawa saja, bukan Sumatera saja, atau Borneo saja, atau Selebes saja, atau Ambon saja, atau Maluku saja, tetapi segenap kepulauan yang ditunjuk oleh Allah SWT menjadi suatu kesatuan antara dua benua dan dua samudera – itulah tanah air kita!

Maka jikalau saya ingat perhubungan antara orang dan tempat – antara rakyat dan buminya – maka tidak cukuplah definisi yang dikatakan Ernest Renan dan Otto Bauer itu. Tidak cukup le desir d’etre ensemble, tidak cukup definisi Otto Bauer aus Schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft itu.

Maaf, Saudara-saudara, saya mengambil contoh Minangkabau. Di antara bangsa Indonesia, yang paling ada le desir d’etre ensemble adalah rakyat Minangkabau, yang banyaknya kira-kira 2 milyun.Rakyat ini merasa dirinya satu keluarga. Tetapi Minangkabau bukan satu kesatuan, melainkan hanya satu bagian kecil dari satu kesatuan! Penduduk Yogya pun adalah merasa le desir d’etre ensemble, tetapi Yogya pun hanya satu bahagian kecil dari satu kesatuan. Di Jawa Barat rakyat Pasundan sangat merasakan le desir d’etre ensemble, tetapi Sunda pun haya satu bagian kecil dari satu kesatuan.

Pendek kata, bangsa Indonesia – Natie Indonesia – bukanlah sekadar contoh satu golongan orang yang hidup dengan le desir d’etre ensemble di atas daerah yang kecil seperti Minangkabau, atau Madura, atau Yogya, atau Sunda, atau Bugis, tetapi bangsa Indonesia ialah seluruh manusia-manusia yang menurut geopolitik, yang telah ditentukan oleh Allah SWT, tinggal di kesatuannya semua pulau-pulau Indonesia dari ujung Utara Sumatera sampai ke Irian! Seluruhnya! Karena antara 70.000.000 ini sudah ada le desir d’etre ensemble, sudah terjadi Charaktergemeinschaft! Natie Indonesia, bangsa Indonesia, umat Indonesia jumlah orangnya adalah 70.000.000, tetapi 70.000.000 yang telah menjadi satu, satu, sekali lagi satu!

(Tepuk tangan hebat)

Ke sinilah kita semua harus menuju: Mendirikan satu Nationale Staat, di atas kesatuan bumi Indonesia dari ujung Sumatera sampai ke Irian. Saya yakin tidak ada satu golongan di antara Tuan-tuan yang tidak mufakat, baik Islam maupun golongan yang dinamakan “golongan kebangsaan”. Ke sinilah kita harus menuju semuanya.

Saudara-saudara, jangan mengira, bahwa tiap-tiap negara merdeka adalah satu nationale staat! Bukan Pruisen, bukan Bayern, bukan Saksen (kerajaan lama di Jerman, lebih dikenal sebagai Prusia, Bavaria dan Saxony-Ed.) adalah nationale staat, tetapi seluruh Jermania-lah satu nationale staat. Bukan bagian kecil-kecil, bukan Venetia, bukan Lombardia, tetapi seluruh Italia-lah – yaitu seluruh semenanjung di Laut Tengah, yang di utara dibatasi oleh pengunungan Alpen – adalah nationale staat. Bukan Benggala, bukan Punjab, bukan Bihar dan Orissa, tetapi seluruh segitiga India-lah nanti harus menjadi nationale staat.

Demikian pula bukan semua negeri-negeri di tanah air kita yang merdeka di jaman dahulu adalah nationale staat. Kita hanya 2 kali mengalami nationale staat, yaitu di zaman Sriwijaya dan zaman Majapahit. Di luar itu kita tidak mengalami nationale staat. Saya berkata dengan penuh hormat kepada kita punya raja-raja dahulu, saya berkata dengan beribu-ribu hormat kepada Sultan Agung Hanyokrokoesoemo, bahwa Mataram – meskipun merdeka – bukan nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Prabu Siliwangi di Pajajaran, saya berkata bahwa kerajaannya bukan nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Prabu Sultan Agung Tirtayasa, saya berkata, bahwa kerajaannya di Banten – meskipun merdeka – bukan suatu nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Sultan Hasanuddin di Sulawesi yang telah membentuk kerajaan Bugis, saya berkata, bahwa tanah Bugis yang merdeka itu bukan nationale staat.

Nationale staat hanya Indonesia seluruhnya, yang telah berdiri di zaman Sriwijaya dan Majapahit dan yang kini pula kita harus dirikan bersama-sama. Karena itu, jikalau Tua-tuan terima baik, marilah kita mengambil dasar Negara yang pertama: Kebangsaan Indonesia.

Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia, yang bersama-sama menjadi dasar satu nationale staat.

Maaf, Tuan Liem Koen Hian. Tuan tidak mau akan kebangsaan? Di dalam pidato Tuan, waktu ditanya sekali lagi oleh Paduka Tuan Fuku Kaityoo (Wakil Ketua, maksudnya Soeroso-Ed.), Tuan menjawab: “Saya tidak mau akan kebangsaan.”

(Liem Koen Hian menanggapi: “Bukan begitu. Ada sambungannya lagi.”)

Kalau begitu, maaf, dan saya mengucapkan terima kasih, karena Tuan Liem Koen Hian pun menyetujui dasar kebangsaan. Saya tahu, banyak juga orang-orang Tionghoa klasik yang tidak mau akan dasar kebangsaan, karena mereka memeluk paham kosmopolitanisme, yang mengatakan tidak ada kebangsaan, tidak ada bangsa. Bangsa Tionghoa dahulu banyak yang kena penyakit kosmopolitanisme, sehingga mereka berkata bahwa tidak ada bangsa Tionghoa, tidak ada bangsa Nippon, tidak ada bangsa India, tidak ada bangsa Arab, tetapi semuanya menschheid – perikemanusiaan!

Tetapi Dr. Sun Yat Sen bangkit, memberi pengajaran kepada rakyat Tionghoa, bahwa ada kebangsaan Tionghoa! Saya mengaku, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah HBS di Surabaya, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis yang bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya. Katanya: “Jangan berpaham kebangsaan, tetapi berpahamlah rasa kemanusiaan sedunia, jangan mempunyai rasa kebangsaan sedikit pun.” Itu terjadi pada tahun ‘17. Tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, ialah Dr. Sun Yat Sen! Di dalam tulisannya, San Min Chu I atau The Three People’s Principles, saya mendapat pelajaran yang membongkar kosmopolitanisme yang diajarkan oleh Baars itu. Dalam hati saya sejak itu, tertanamlah rasa kebangsaan oleh pengaruh The Three People’s Principles itu. Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah bahwa Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat, sehormat-hormatnya, merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen – sampai masuk ke lobang kubur.

(Anggota-anggota Tionghoa bertepuk tangan)

Saudara-saudara! Tetapi… tetapi… memang prinsip kebangsaan ini ada bahayanya! Bahayanya ialah mungkin orang-orang meruncingkan nasionalisme menjadi chauvinisme (nasionalisme yang berlebihan, ekstrem-Ed.), sehingga berpaham “Indonesia uber Alles (Indonesia di atas semua bangsa-Ed.).” Inilah bahayanya! Kita cinta tanah air yang satu, merasa berbangsa satu, mempunyai bahasa yang satu. Tetapi Tanah Air kita Indonesia hanya satu bagian kecil saja dari dunia! Ingatlah akan hal ini!

Gandhi berkata: “Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan. My nationalism is humanity.”

Kebangsaan yang kita anjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri, bukan chauvinisme, sebagai dikobar-kobarkan orang di Eropa, yang mengatakan Deutschland uber Alles. Tidak ada yang setinggi Jermania, yang katanya bangsanya minulyo, berambut jagung dan bermata biru – bangsa Arya – yang dianggapnya tertinggi di atas dunia, sedang bangsa lain tidak ada harganya. Jangan kita berdiri di atas asas demikian, Tuan-Tuan. Jangan berkata, bahwa bangsa Indonesia-lah yang terbagus dan termulia, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia.

Kita bukan saja harus mendirikan negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa.

Justru inilah prinsip yang kedua. Inilah philosofische princiep yang nomor dua, yang saya usulkan kepada Tuan-tuan, yang boleh saya namakan internasionalisme. Tetapi jikalau saya katakan internasionalisme, bukanlah saya bermaksud kosmopolitanisme, yang tidak mau adanya kebangsaan, yang mengatakan tidak ada Indonesia, tidak ada Nippon, tidak ada Birma, tidak ada Inggris, tidak ada Amerika, dan lain-lainnya.

Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup di dalam taman sarinya internasionalisme. Jadi, dua hal ini, Saudara-saudara, prinsip 1 dan prinsip 2 – yang pertama-tama saya usulkan kepada Tuan-tuan sekalian – adalah bergandengan erat satu sama lain.

Kemudian, apakah dasar yang ke-3? Dasar itu ialah dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan. Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara “semua buat semua”, “satu buat semua, semua buat satu”. Saya yakin, bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya negara Indonesia ialah permusyawaratan, perwakilan.

Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, saya pun, adalah orang Islam – maaf beribu-ribu maaf, keislaman saya jauh belum sempurna – tetapi kalau Saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, Tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam. Dan hati Islam Bung Karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat. Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam permusyawaratan.

Badan perwakilan, inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam. Di sinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar supaya sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan-utusan Islam. Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam di sini agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat itu, agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam ke dalam badan perwakilan ini. Ibaratnya badan perwakilan rakyat 100 orang anggotanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya, agar supaya 60, 70, 80, 90 utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam. Dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula.

Malahan saya yakin, jikalau hal yang demikian itu nyata terjadi, barulah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar hidup di dalam jiwa rakyat, sehingga 60 persen, 70 persen, 80 persen, 90 persen utusan adalah orang Islam, pemuka-pemuka Islam, ulama-ulama Islam. Maka saya berkata, baru jikalau demikian, baru jikalau demikian, hiduplah Islam Indonesia, dan bukan hanya Islam yang hanya di atas bibir saja. Kita berkata, 90 persen daripada kita beragama Islam, tetapi lihatlah di dalam sidang ini berapa persen yang memberikan suaranya kepada Islam? Maaf beribu maaf, saya tanya hal itu! Bagi saya hal itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat. Oleh karena itu, saya minta kepada Saudara-saudara sekalian – baik yang bukan Islam, maupun terutama yang Islam – setujuilah prinsip nomor 3 ini, yaitu prinsip permusyawaratan, perwakilan.

Dalam perwakilan nanti ada perjuangan sehebat-hebatnya. Tidak ada satu staat yang hidup betul, betul hidup, jikalau di dalam badan perwakilannya tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah Candaradimuka, kalau tidak ada perjuangan paham di dalamnya. Baik di dalam staat Islam, maupun di dalam staat Kristen, perjuangan selamanya ada. Terimalah prinsip nomor 3, prinsip mufakat, prinsip perwakilan rakyat!

Di dalam perwakilan rakyat Saudara-saudara Islam dan Saudara-saudara Kristen bekerjalah sehebat-hebatnya. Kalau misalnya orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter (huruf, dalam bahasa Inggris-Ed.) di dalam peraturan-peraturan negara Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah mati-matian, agar supaya, sebagian besar dari utusan-utusan yang masukn badan perwakilan Indonesia ialah orang Kristen. Itu adil, fair play! (permainan yang jujur, dalam bahasa Inggris-Ed.). Tidak ada negara boleh dikatakan negara hidup, kalau tidak ada perjuangan di dalamnya. Jangan kira di Turki tidak ada perjuangan. Jangan kira dalam negara Nippon tidak ada pergeseran pikiran. Allah subhanahu wa ta’ala memberi pikiran kepada kita, agar supaya dalam pergaulan sehari-hari, kita selalu bergosok, seakan-akan menumbuk membersihkan gabah, supaya keluar daripadanya beras, dan beras itu akan menjadi nasi Indonesia yang sebaik-baiknya. Terimalah Saudara-saudara prinsip nomor 3, yaitu prinspi permusyawaratan!

Prinsip nomor 4, sekarang saya usulkan. Saya di dalam 3 hari ini belum mendengarkan prinsip itu, yaitu prinsip kesejahteraan, prinsip tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia Merdeka. Saya katakan tadi: Prinsipnya San Min Chu I ialah Mintsu, Min Chuan, Min Sheng: Nationalism, Democracy, Sosialism. Maka prinsip kita harus: Apakah kita mau Indonesia Merdeka, yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang-pangan kepadanya? Mana yang kita pilih, Saudara-saudara? Jangan Saudara kira, bahwa kalau Badan Perwakilan Rakyat sudah ada, kita dengan sendirinya sudah mencapai kesejahteraan ini. Kita sudah lihat, di negara-negara Eropa adalah Badan Perwakilan, adalah parlementaire demoratie. Tetapi tidakkah di Eropa justru kaum kapitalis merajalela?

Di Amerika ada suatu Badan Perwakilan Rakyat, dan tidakkah di Amerika kaum kapitalis merajalela? Tidakkah di seluruh benua Barat kaum kapitalis merajalela? Padahal ada badan perwakilan rakyat! Tak lain tak bukan sebabnya, ialah oleh karena badan-badan perwakilan yang diadakan di sana itu, sekedar menurut resepnya Fransche Revolutie (Revolusi Perancis, dalam bahasa Belanda-Ed.). Tak lain tak bukan adalah yang dinamakan demokrasi di sana itu hanyalah politieke demoratie saja; semata-mata tidak ada sociale rechtvaardigheid – tidak ada keadilan sosial, tak ada economische democratie sama sekali.

Saudara-saudara, saya ingat akan kalimat seorang pemimpin Perancis, Jean Jaures yang menggambarkan politieke demoratie. “Di dalam parlementaire demoratie,” kata Jean Jaures, “tiap-tiap orang mempunyai hak sama. Hak politik yang sama, tiap-tiap orang boleh memilih, tiap-tiap orang boleh masuk dalam parlemen. Tetapi adakah sociale rechtvaardigheid, adakah kenyataan kesejahteraan di kalangan rakyat?”

Maka oleh karena itu Jean Jaures berkata lagi: “Wakil kaum buruh yang mempunyai hak politik itu, di dalam Parlemen dapat menjatuhkan minister (menteri, dalam bahasa Belanda dan Inggris-Ed.). Ia seperti raja. Tetapi di dalam dia punya tempat bekerja – di dalam pabrik – sekarang ia menjatuhkan minister, besok dia dapat dilempar ke luar jalan raya, dibikin werloos (menganggur, dalam bahasa Belanda-Ed.), tidak dapat makan suatu apa.”

Adakah keadaan yang demikian ini yang kita kehendaki?

Saudara-saudara, saya usulkan: Kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni politiek-economische democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial! Rakyat Indonesia sudah lama bicara tentang hal ini. Apakah yang dimaksud dengan Ratu Adil? Yang dimaksud dengan paham Ratu-Adil, ialah sociale rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan, kurang pakaian, menciptakan dunia baru yang di dalamnya ada keadilan, di bawah pimpinan Ratu Adil. Maka oleh karena itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan politik, Saudara-saudara, tetapi pun di atas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.

Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang akan kita buat, hendaknya bukan bada permusyawaratan politieke democratie saja, tetapi badan yang bersama dengan masyarakat dapat mewujudkan dua prinsip: politieke rechtvaardigheid dan sociale rechtvaardigheid (keadilan politik dan keadilan sosial, dalam bahasa Belanda-Ed.).

Kita akan bicrakan hal ini bersama-sama, Saudara-Saudara, di dalam badan permusyawaratan. Saya ulangi lagi, segala hal akan kita selesaikan, segala hal! Juga di dalam urusan Kepala Negara, saya terus terang, saya tidak akan memilih monarki. Apa sebab? Oleh karena monarki vooronderstelt erfe-lijkheid (pewarisan yang sudah diketahui terlebih dahulu, dalam bahasa Belanda-Ed.). Turun-temurun. Saya orang Islam, saya demokrat karena saya orang Islam, saya menghendaki mufakat, maka saya minta supaya tiap-tiap kepala negara pun dipilih. Tidakkah agama Islam mengatakan bahwa kepala-kepala negara, baik kalif, maupun Amirul mu’minin, harus dipilih oleh rakyat? Tiap-tiap kali kita mengadakan kepala negara, kita pilih. Jikalau pada suatu hari Ki Bagoes Hadikoesoemo misalnya, menjadi Kepala Negara Indonesia, dan mangkat, meninggal dunia, janganlah anaknya Ki Hadikoesoemo dengan sendirinya – dengan otomatis – menjadi pengganti Ki Hadikoesoemo. Maka oleh karena itu, saya tidak mufakat kepada prinsip monarki itu.

Saudara-saudara, apakah prinsip ke-5? Saya telah mengemukakan 4 prinsip:

1. Kebangsaan Indonesia

2. Internasionalisme atau perikemanusiaan

3. Mufakat atau demokrasi

4. Kesejahteraan sosial.

Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya bertuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara kebudayaan, yakni tiada “egoisme agama”. Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan!

Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.

(Tepuk tangan sebagian hadirin)

Nabi Muhammad SAW telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid (sifat dapat memahami pendapat yang lain, dalam bahasa Belanda-Ed.), tentang menghormati agama-agama lain, Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid itu. Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini – sesuai dengan itu – menyatakan: Bahwa prinsip kelima dari Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau Saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!

Di sinilah, dalam pangkuan asas yang kelima inilah, Saudara-saudara, segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini, akan mendapat tempat yang sebaik-baiknya. Dan Negara kita akan bertuhan pula!

Ingatlah prinsip ketiga – permufakatan, perwakilan – di situlah tempatnya ktai mempropagandakan ide kita masing-masing dengan cara yang tidak onverdraagzaam (tidak sabar, memaksa, dalam bahasa Belanda-Ed.), yaitu dengan cara yang berkebudayaan!

Saudara-saudara! “Dasar-dasar Negara” telah saya usulkan Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai pancaindera. Apa lagi yang lima bilangannya?

(Seorang yang hadir: “Pendawa Lima.”)

Pendawa pun lima orangnya. Sekarang banyaknya prinsip – kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan – lima pula bilangannya.

Namanya bukan Panca Dharma, tetapi – saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman ahli bahasa — namanya ialah Pancasila. Sila artinya “asas” atau “dasar”, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.

(Tepuk tangan riuh)

Atau, barangkali ada Saudara-saudara yang tidak suka akan bilangan lima itu? Saya boleh peras sehingga tinggal 3 saja. Saudara-saudara tanya kepada saya, apakah “perasan” yang tiga itu? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasarnya Indonesia Merdeka, Weltanschauung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme – kebangsaan dan perikemanusiaan – saya peras menjadi satu: itulah yang dahulu saya namakan Sosio-nasionalisme.

Dan demokrasi yang bukan demokrasi Barat, tetapi politiek-economische demoratie – yaitu politieke demoratie dengan sociale rechtvaardigheid, demokrasi dengan kesejahteraan – saya peraskan pula menjadi satu: inilah yang dulu saya namakan Sosio-demokrasi.

Tinggal lagi Ketuhanan, yang menghormati satu sama lain.

Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: Sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan Ketuhanan. Kalau Tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang tiga ini. Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang kepada Trisila ini, dan minta satu, satu dasar saja! Baiklah saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu?

Sebagai tadi telah saya katakan: Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indoesia buat Indoesia. Semua buat semua! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Alangkah hebatnya! Negara Gotong-Royong!

(Tepuk tangan riuh-rendah)

“Gotong-royong” adalah paham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan”, Saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu paham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama! Gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah gotong-royong!

(Tepuk tangan riuh-rendah)

Prinsip gotong-royong di antara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia. Inilah, Saudara-saudara, yang saya usulkan kepada Saudara-saudara.

Pancasila menjadi Trisila, Trisila menjadi Ekasila. Tetapi terserah kepada Tuan-tuan, mana yang Tuan-tuan pilih: Trisila, Ekasila ataukah Pancasila? Isinya telah saya katakan kepada Saudara-saudara semuanya. Prinsip-prinsip seperti yang saya usulkan kepada Saudara-saudara ini, adalah prinsip untuk Indonesia Merdeka yang abadi. Puluhan tahun dadaku telah menggelora dengan prinsip-prinsip itu.

Tetapi jangan lupa, kita hidup di dalam masa peperangan, Saudarna-saudara. Di dalam masa peperangan itulah kita mendirikan negara Indonesia. Di dalam gunturnya peperangan! Bahkan saya mengucap syukur alhamdulillah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, bahwa kita mendirikan negara Indonesia bukan di dalam sinarnya bulan purnama, tetapi di bawah palu godam peperangan dan di dalam api peperangan. Timbullah Indonesia Merdeka, Indonesia yang gemblengan, Indonesia Merdeka yang digembleng dalam api peperangan, dan Indonesia Merdeka yang demikian itu adalah negara Indonesia yang kuat, bukan negara Indonesia yang lambat-laun menjadi bubur. Karena itulah saya mengucap syukur kepada Allah SWT.

Berhubungan dengan itu – sebagai yang diusulkan oleh beberapa pembicara-pembicara tadi – barangkali perlu diadakan noodmaat-regel (aturan darurat, dalam bahasa Belanda-Ed.), peraturan yang bersifat sementara. Tetapi dasarnya, isinya Indonesia Merdeka yang kekal abadi menurut pendapat saya, haruslah Pancasila. Sebagai dikatakan tadi, Saudara-saudara, itulah harus Weltanschauung kita.

Entah Saudara-saudara memufakatinya atau tidak, tetapi saya berjuang sejak tahun 1918 sampai 1945 sekarang ini untuk Weltanschauung itu. Untuk membangun nasionalistis Indonesia, untuk kebangsaan Indonesia; untuk kebangsaan Indonesia yang hidup di dalam perikemanusiaan; untuk permufakatan; untuk sociale rechtvaardigheid; untuk Ketuhanan. Pancasila, itulah yang berkobar-kobar di dalam dada saya sejak berpuluh tahun. Tetapi, Saudara-saudara, diterima atau tidak, terserah kepada Saudara-saudara. Tetapi saya sendiri mengerti seinsyaf-insyafnya, bahwa tidak ada satu Weltanschauung dapat menjelma dengan sendirinya, menjadi realiteit dengan sendirinya. Tidak ada satu Weltanschauung dapat menjadi kenyataan – menjadi realiteit – jika tidak dengan perjuangan!

Jangan pun Weltanschauung yang diadakan oleh manusia, jangan pun yang diadakan oleh Hitler, oleh Stalin, oleh Lenin, oleh Sun Yat Sen!

De Mensch – manusia – harus perjuangkan itu. Zonder (tanpa, dalam bahasa Belanda-Ed.) perjuangan itu tidaklah ia akan menjadi realiteit! Leninisme tidak bisa menjadi realiteit zonder perjuangan seluruh rakyat Rusia, San Min Chu I tidak dapat menjadi kenyataan zonder perjuangan bangsa Tionghoa, Saudara-saudara! Tidak! Bahkan saya berkata lebih lagi dari itu: Zonder perjuangan manusia, tidak ada satu hal agama, tidak ada satu cita-cita agama, yang dapat menjadi realiteit. Jangan pun buatan manusia, sedangkan perintah Tuhan yang tertulis di dalam kitab Qur’an, zwart op wit (hitam di atas putih, dalam bahasa Belanda-Ed.), tertulis di atas kertas, tidak dapat menjelma menjadi realiteit zonder perjuangan manusia yang dinamakan umat Islam. Begitu pula perkataan-perkataan yang tertulis di dalam kitab Injil, cita-cita yang termasuk di dalamnya tidak dapat menjelma zonder perjuangan umat Kristen.

Maka dari itu, jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu, menjadi satu realiteit, yakni jikalau kita ingin hidup menjadi satu bansa, satu nationaliteit yang merdeka, ingin hidup sebagai anggota dunia yang merdeka, yang penuh dengan perikemanusiaan, ingin hidup di atas dasar permusyawaratan, ingin hidup sempurna dengan sociale rechtvaardigheid, ingin hidup dengan sejahtera dan aman, dengan ketuhanan yang luas dan sempurna – janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya, ialah perjuangan, perjuangan, dan sekali lagi perjuangan!

Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam Indonesia Merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus, hanya lain sifatnya dengan perjuangan sekarang, lain coraknya. Nanti kita bersama-sama, sebagai bangsa yang bersatu-padu, berjuang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila.

Dan terutama di dalam zaman peperangan ini, yakinlah, insyaflah, tanamkanlah dalam kalbu Saudara-saudara, bahwa Indonesia Merdeka tidak dapat datang jika bangsa Indonesia tidak berani mengambil resiko – tidak berani terjun menyelami mutiara di dalam samudera yang sedalam-dalamnya. Jikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak menekadkan mati-matian untuk mencapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan menjadi milik bangsa Indonesia buat selama-lamanya, sampai ke akhir zaman! Kemerdekaan hanyalah diperdapat dan dimiliki oleh bangsa, yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad: Merdeka! “Merdeka atau mati!”

(Tepuk tangan riuh)

Saudara-saudara! Demikianlah saya punya jawab atas pertanyaan Paduka Tuan Ketua. Saya minta maaf, bahwa pidato saya ini menjadi panjang lebar, dan sudah meminta tempo yang sedikit lama, dan saya juga minta maaf, karena saya telah mengadakan kritik terhadap catatan Zimukyokutyoo yang saya anggap verschrikkelijk zwaarwichtig (seolah-olah sangat berat, dalam bahasa Belanda-Ed.) itu.

Terima kasih!

(Tepuk tangan riuh-rendah dari segenap hadirin)



Pesan Tersirat :
Read More … PIDATO BUNG KARNO 1 JUNI 1945 (SEJARAH LAHIRNYA PANCASILA)
 

Free Blog Templates

Blog Tricks

Easy Blog Tricks

bukan blog koruptor

perangi korupsi
dari dirimu sendiri
©  Grunge Theme Copyright by Paguyuban NASIONALIS Kab Malang | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks