Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Pencipta Lagu Anak-anak Indonesia


Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri

Ibu Soed (Arsip mestimoco.com)
Jika mendengan nama Saridjah Niun Soedibyo kelahiran Sukabumi, kebanyakan orang tidak akan mengenal nama ini. Wanita yang terlahir pada tanggal 28 Maret 1908 di Sukabumi, Jawa Barat ini sebenarnya adalah pencipta lagu anak-anak yang legendaris. Dia telah menciptakan ratusan lagu anak-anak. Tokh musik tiga jaman ini (Belanda, Jepang dan Indonesia) lebih dikenal dengan nama Ibu Soed. Ia pertama kali memperdengarkan suaranya melalui radio NIROM Jakarta pada tahun 1927

Ia ikut mengiringi lagu Indonesia Raya ketika pertama kali dilantunkan di  Gedung Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Dia bertindak sebagai pemusik biola.

Ibu Soed yang memiliki nama asli Saridjah, anak bungsu dari dua belas orang bersaudara, putri pelaut berdarah Bugis Mohamad Niung, yang menetap di Sukabumi, Jawa Barat kemudian pelaut ini menjadi pengawal Prof. Dr. Mr. J.F. Kramer, seorang indo-Belanda yang kemudian menjadikan Saridjah menjadi anak asuhnya. Di bawah pengasuhan sang ayah angkat, Saridjah  mendapat pendidikan seni suara, seni musik dan belajar menggesek biola.

Setelah   menamatkan pendidikan di Kweekschool,  Bandung,  Saridjah mengajar di beberapa HIS antara lain HIS Petojo, HIS Jalan Kartini, dan HIS Arjuna (1925-1941). Dia prihatin melihat anak-anak  Indonesia yang tampak kurang berbahagia. Lalu dia berpikir untuk  menyenangkan anak-anak itu dengan menyanyi. Dia pun berpikir  sebaiknya anak-anak Indonesia itu dapat menyanyi dalam bahasa Indonesia.Maka, dia pun mulai mencipta lagu  untuk anak-anak Indonesia.

Lagu-lagu ciptaannya, tidak hanya  memberi kegembiraan kepada anak-anak, tetapi juga mendorong mereka  berkhayal, berimajinasi menjadi anak bangsa yang kelak berbakti dan  mencipta untuk kejayaan bangsanya. Selain menciptakan sejumlah lagu  kanak-kanak berirama ceria, antara lain Hai Becak, Ketilang, Kupu-kupu,  dan Bila Aku Besar, juga lagu ceria patriotik seperti Tanah Airku dan  Berkibarlah Benderaku.
Berkibarlah Benderaku diciptakan setelah  dia melihat kegigihan Yusuf Ronodipuro, seorang pimpinan RRI pada  tahun-tahun pertama Indonesia merdeka. Yusuf menolak menurunkan Sang  Saka Merah Putih yang sedang berkibar di kantornya, walaupun dalam  ancaman senjata api.

Semangat cinta tanah air juga terukir sangat dalam di lagu Tanah Airku:


 Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan


Lebih  dari 200 lagu telah dia ciptakan. Di tengah kesibukannya mengajar dan mencipta lagu, ia juga pernah menulis naskah sandiwara dan sekaligus mementaskannya. Yakni  Operette Ballet Kanak-kanak Sumi di Gedung Kesenian, Jakarta, 1955. Nani Loebis Gondosapoetro sebagai penata tari  dan RAJ Soedjasmin sebagai penata musik.
Selain itu, saat aktif sebagai anggota organisasi Indonesia Muda tahun 1926, ia juga membentuk grup Tonil Amatir. Hasilnya, lebih dari cukup. Selain aktivitasnya tidak hanya menonjol sebagai guru dan aktivis organisasi pemuda, tetapi juga berperan dalam berbagai siaran radio sebagai pengasuh siaran anak-anak (1927-1962). Bahkan, ia juga piawai membatik. Sejak menikah namanya lebih dikenal dengan Ibu Soed.


Pesan Tersirat : Dunia anak adalah dunia kejujuran dan saat yang tepat menanamkan jiwa patriotisme dan Cinta tanah air

Check
dumber : tokohindonesia.com
Dapatkan informasi lain di web
Read More … Pencipta Lagu Anak-anak Indonesia

Rumah Pengasingan Bungkarno di Bengkulu

Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri

Rumah Pengasingan 1938
Rumah Pengasingan Bung karno
Akibat usia dan minimnya rehabilitasi atau perbaikan kondisi rumah pengasingan Bung Karno di Jalan Soekarno-Hatta Kelurahan Anggut Atas Kota Bengkulu sudah keropos 70 persen.

Rumah yang ditempati Bung Karno menjalani pengasingan 4 tahun di Kota Bengkulu pada 1938 hingga 1942 tersebut memiliki lima ruangan yaitu dua buah ruang tamu, dua ruang tidur dan sebuah ruang kerja Proklamator

"Perbaikan sangat mendesak karena material bangunan masih 90 persen asli dan sudah rapuh dimakan usia, 60 persen  material kayu layak diganti," kata Koordinator Juru Pelihara Benda Cagar Budaya (BCB) Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi Provinsi Bengkulu, Sugrahanudin.

akibat gempa yang berulangkali melanda Bengkulu dan sekitarnya mengakibatkan retak dan pengecatan terhadap dinding atau tembok perlu mendapat perhatian.

Sugrahanudin sebagai juru pelihara Rumah Bung Karno mengatakan usulan dana perbaikan sudah disampaikan ke BP3 Jambi tapi hingga saat ini belum ada kejelasan. Ia memperkirakan, jika tidak ada perbaikan dalam waktu dekat, rumah yang dibangun pada 1918 itu akan ambruk dalam satu tahun ke depan.

Sejumlah kusen atau tiang penyangga utama juga sudah lapuk dimakan rayap. "Jendela dipaku dan tidak dapat dibuka lagi karena jika dibuka langsung lepas," ujarnya.

Rumah pengasingan tersebut merupakan salah satu rumah termewah dengan sentuhan arsitektur gaya Eropa dan China pada masanya. Rumah yang pernah ditempati Bung Karno bersama istrinya milik seorang saudagar berdarah Tionghoa.

tingkat pengunjung ke rumah bersejarah itu masih tinggi. kata Sugrahanudin meski kondisi bangunan sudah keropos dan bisa ambruk sewaktu-waktu,

"Kami khawatir rumah ini roboh hingga menimpa pengunjung, tapi untuk menutup belum ada kajian dari ahli bangunan," katanya.


Pesan Tersirat :

Check

Dapatkan informasi lain di web
Read More … Rumah Pengasingan Bungkarno di Bengkulu

Kusbini dan Padamu negeri


Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri

Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami
"Seluruh pelosok negeri nusantara pernah mendengar dan menyanyikan lirik indah sebuah lagu, Bagimu Negeri, yang diciptakan oleh Kusbini. Dia berhasil menciptakan lagu fenomenal yang tetap dikumandangkan hingga saat ini karena lagunya sanggup membangkitkan semangat nasionalisme dan cinta tanah air Indonesia. Boleh dikatakan, ia termasuk salah satu pejuang kemerdekaan yang berjuang lewat karya dan lagu. " Seniman kelahiran 1 Januari 1910 di Desa Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur Adalah anak seorang menteri Kehutanan, sebagai seorang anak menteri maka Kusbini kecil selalu berpindah-pindah, dari pengalamannya berpindah-pindah tersebut yang ahkirnya melahirkan sosok Kusbini yang begitu perhatian dan menghiraukan akan nasib sesama. Semangat itu semakin tumbuh subur ketika Kusbini memasuki bangku sekolah yaitu H.I.S (1926) di Jombang. Terlebih ketika dia melanjutkan ke MULO dan di sekolah dagang S de Senerpont Domis, di Surabaya di mana Kusbini banyak berkenalan dengan para pejuang dan kaum cendekiawan yang berjuang digaris depan. Dengan banyaknya dia bergaul menyebabkan Kusbini menemukan jalan hidupnya yang cocok untuk mengekspresikan sebebas-bebasnya seluruh semangat perjuangan yang gemuruh dalam dadanya, yaitu di dunia musik yang dicintai sedari kecil memulai kariernya bersama Jong Indisce Stryken Tokkel Orkest (Jitso), sebuah kumpulan musik keroncong di Surabaya. Merasa belum puas dengan pengetahuan musik yang didapatnya secara otodidak, Kusbini mengikuti pendidikan musik Apollo di Malang. Sembari belajar, Kusbini yang mendapat julukan ‘buaya keroncong’ dari teman-temannya ini, terus tampil sebagai penyanyi keroncong dan pemain biola pada siaran Nirom dan Cirvo di Surabaya. Selain lagu Bagimu Negeri, Kusbini juga mengarang lagu bertemakan semangat kemerdekaan lainnya seperti Cinta Tanah Air, Merdeka, Pembangunan, Salam Merdeka. Selain itu, ia mencipta puluhan lagu keroncong, seperti Keroncong Purbakala, Pamulatsih, Bintang Senja Kala, Keroncong Sarinande, Keroncong Moresko, Dwi Tunggal, dan Ngumandang Kenang. Salah satu lagu keroncong yang bertemakan semangat kemerdekaan adalah Kewajiban Manusia. Lagu ini mengajak bangsa Indonesia untuk terus menggalang persatuan dalam mencapai kemerdekaan.

Dari berbagai sumber

Pesan Tersirat :Cinta tanah air dapat diwujudkan melalui seni

Check

Dapatkan informasi lain di web
Read More … Kusbini dan Padamu negeri

Dukung Voting KOMODO


Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri

Dukungan masyarakat untuk memenangkan komodo sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia baru (New 7 Wonder) makin meluas. Keterlibatan artis dan sejumlah pengusaha dalam kampanye penggalangan dukungan membuat vote untuk komodo melonjak tajam.
  
Tetapi tahukah anda kita kalah oleh sekedar kadal air malaysia? Ayo vote.. dukung agar bangsa ini masih memiliki kebanggaan
 
Info : PEROLEHAN SEMENTARA VOTE NEW7WONDERS (5 Besar) :
 
1. KADAL AIR (MALAYSIA)
- 46.643.507 suara sms
 
2. GAJAH HITAM (THAILAND)
- 43.976.151 suara sms
 
3. PULAU KOMODO (INDONESIA)
- 40.421.843 suara sms
 
4. BURUNG DEIL (AFRIKA)
- 34.800.619 suara sms
 
5. IKAN STEDDO (NEW ZEALAND)
- 27.617.994 suara/sms
 
Ayo Vote PULAU KOMODO..
Caranya : Ketik KOMODO kirim sms ke 9818. Saat ini sdh GRATIS sms utk semua Operator Seluler.
 
Penduduk Indonesia 240 juta. Hanya 1 org 1 sms saja kita sdh menang.
 
- Batas waktu tgl 11 Nov 2011
KURANG .09. Hari lagi . 
vote dan sebarkan


Pesan Tersirat :

Check

Dapatkan informasi lain di web
Read More … Dukung Voting KOMODO

MENYAMBUT HARI SUMPAH PEMUDA



Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri

Minggu malam tanggal 2 Oktober 2011, lapangan desa Karang duren terang bensderang dengan diadakannya acara Menyambut hari Sumpah Pemuda, dengan tema "Dengan semangat Sumpah Pemuda, Perkokoh kesatuan dan persatuan demi tegaknya NKRI"

Acara yang dimulai pukul 19.45 ini sebagai mana biasa diawali dengan Menyanyika lagu "Indonesia Raya", karena terkait dengan peringatan hari sumpah pemuda maka dilanjutkan dengan menyanyikan lagu "Satu nusa satu bangsa" dan pembacaan teks Sumpah Pemuda


Duryat Wahyudi selaku ketua pelaksana pada pidatonya mengingatkan bahwa pentingya persatuan dan kesatuan, karena kurang bersatunya bangsa Indonesia, maka pergerakan perjuangan dari Cut Nyak Din, Pangeran Diponegoro, Hassanudin dan sebagainya tidak dapat mencapai hasil maksimal.

Acara gebyak Kuda lumping dapat menyerap dan memukau para penonton sehinga selesai, harapan dari pelaksana kegiatan berupa penanaman jiwa kebangsaan dapat tercapai dalam acara tersebut dengan cara menyisipkan Kesenian tradisional.

Pesan Tersirat :

Check

Dapatkan informasi lain di web
Read More … MENYAMBUT HARI SUMPAH PEMUDA

Tendangan Dari Langit

Amalkan Pancasila Mulai Diri Sendiri

Nikmatnya sepak bola di negeri ini tidak hanya bisa disaksikan di lapangan hijau saja. Serunya menyerukan semangat bagi tim nasional yang mencoba mencetak gol kini bukan hanya milik penggemar fanatik olahraga ini saja, tetapi juga menjadi salah satu pemicu menyeruaknya semangat nasionalisme di negeri ini. Lewat layar lebar pula semangat itu ditularkan bagi penggemar film. Dua tahun lalu, Salto Film mempersembahkan Garuda Di Dadaku yang berkisah tentang mimpi seorang anak dan dunia sepak bola. Tahun 2011 ini, mimpi itu kembali muncul lewat bakat seorang remaja asal Gunung Bromo dengan arahan sutradara Hanung Bramantyo produksi Dapur Film.
Sepak bola sebagai olahraga yang begitu dekat dengan masyarakat Indonesia ternyata masih terlalu jauh untuk diraih bagi remaja asal Langitan, Wahyu (Yosie Kristanto). Konon ia punya bakat besar dan mimpi yang sama besarnya untuk bisa bergabung di Persema (Persatuan Sepak Bola Malang) bersama dua nama besar yang sedang populer, Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan. Wahyu mungkin mewakili beberapa jiwa anak muda yang ingin menjadikan sepak bola sebagai pilihan kariernya. Berawal dari pemain bayaran untuk Desa Karangsari di lereng Gunung Bromo, Wahyu beruntung bisa bertemu dengan Coach Timo sang pelatih Persema ketika menolong anaknya yang diganggu anak jalanan di Malang. Pertemuan mereka memang hanya sekilas saja. Namun, ‘jodoh’ mempertemukan mereka kembali saat Coach Timo melihat Wahyu yang sedang berlatih bola di Gunung Bromo.
Menganggap bakatnya bisa diasah, Coach Timo mengajak Wahyu ikut try out Persema, tentunya bersama Bachdim dan Kurniawan. Masalah mulai muncul pasca tes kesehatan ditemukan penyakit osgoodschlatter di kaki kanan Wahyu. Harapan mulai pupus bagi Wahyu untuk membuktikan bahwa anak Langitan bisa bersanding dengan para pemain naturalisasi di lapangan hijau Gajayana sampai nantinya di Gelora Bung Karno. Ini bukan masalah pertama yang dihadapi Wahyu, sang ayah Darto (Sujiwo Tejo) terang-terangan menolak sepak terjang Wahyu di lapangan sepak bola. Baginya, sepak bola hanyalah memberikan angan-angan palsu tanpa ada hasil yang konkret. Namun hati Darto akhirnya luluh setelah Wahyu memenangkan pertandingan besar dan menghadiahkan kuda untuk membantu ayahnya bekerja.
Menonton film ini bagi penonton awam sepak bola tentu menjadi kesenangan tersendiri, apalagi melihat bagaimana pencapaian anak daerah menuju mimpi lapangan hijau kota besar, Malang dan Jakarta, berkali-kali disebut. Tanpa bermaksud membandingkan, Tendangan memiliki kemiripan pola mengejar mimpi karier sepak bola dengan Garuda. Berawal dari hobi, ‘dikompori’ orang terdekat untuk bisa meraih mimpi lebih tinggi tetapi terbentur dengan larangan keluarga.
Di Tendangan begitu banyak tokoh yang berperan menjadi ‘kompor’ untuk memanasi Wahyu pilihan mana yang sebaiknya dipilih. Awalnya, ketika Wahyu berseteru dengan Darto yang terus melarangnya bermain bola, Hasan (Agus Kuncoro) selalu berada di belakang Wahyu mendukung setiap pilihan langkahnya. Hasan bahkan mempertemukan Wahyu dengan Gatot (Toro Margens), yang akhirnya menghadiahinya kuda setelah memenangkan pertandingan. Hasan selalu muncul di saat-saat terburuk Wahyu, termasuk saat amarah Darto memuncak Hasan juga membongkar kenapa Darto begitu membenci sepak bola. Saat itu Wahyu merasa ada dalam lindungan Hasan, sang Pak Le yang bisa menyelamatkan mimpinya di lapangan hijau.
Keadaan menjadi berbalik ketika Darto mulai luluh dan mengizinkan Wahyu main sepak bola. Awalnya terkesan mendukung Wahyu bermain bola untuk mengejar impian sekaligus mendapat uang tambahan, Hasan justru sempat menghalangi niat Wahyu untuk menerima tawaran Coach Timo di Persema. Hasan memang sempat mengantar Wahyu menuju markas Persema, tapi ketika di tengah jalan ban motor Hasan pecah dan Wahyu nyaris terlambat, Hasan masih berniat membuat Wahyu mengurungkan niatnya itu.
Perlahan-lahan karakter Hasan terlihat memiliki hidden agenda terhadap Wahyu. Ia ingin Wahyu tetap bermain sebagai pemain bayaran sebagai bahan taruhan bola warga Karangsari. Hal ini baru terungkap jelas di akhir film ketika ia berhasil mengumpulkan banyak uang taruhan saat Wahyu kembali bermain untuk Karangsari. Padahal, bagi saya sendiri tokoh yang diperankan Agus Kuncoro ini begitu menarik perhatian. Mulai dari sikapnya yang provokatif bagi Wahyu, terkadang jenaka kala bercanda, sampai sikapnya yang agak penakut ketika berhadapan dengan Gatot. Terlihat dari dialognya dengan Wahyu yang cukup mendominasi di awal film. Ia juga memposisikan dirinya sebagai pelindung Wahyu dengan berkali-kali menyebut dirinya “Pak Le” alias paman untuk mengesankan kedekatannya dengan Wahyu. Didukung dengan ketidakakuran Wahyu dengan Darto, situasi tersebut sangat menguntungkan posisi Hasan di mata Wahyu.
Ketamakan Hasan terbongkar seiring dengan perubahan sikap Darto yang melunak. Sang ayah yang sudah terbuka dan mengizinkan Wahyu bergabung di Persema ditunjukan dengan mimik Sujiwo Tejo yang makin mengumbar senyum. Pemilihan kata-kata yang seperti berpantun makin menguatkan sosok Darto yang justru sudah berada di pihak Wahyu dan membebaskan pilihannya. Hal ini terlihat ketika Wahyu didera kebingungan memilih antara cintanya dengan Indah (Maudy Ayunda), sang gadis impian atau sepak bola. Darto hanya memberikan nasihat “Cinta itu harus memilih salah satu, yang satunya lagi hanya menghormati” atau cara Darto yang berusaha menggoda Wahyu dengan pantunnya, “Kalau cinta melekat, tai kucing terasa cokelat”. Guyonan Darto tersebut seolah meruntuhkan karakternya yang sebelumnya ditampilkan sebagai ayah yang kaku, pemarah dan tidak suportif.
Celetukan Sujiwo Tejo yang banyak menyelipkan kritik sosial seputar sepak bola, politik dan percintaan remaja memberikan kesegaran tersendiri bagi tokoh Darto dan dialog yang dilontarkannya. Selipan nyeleneh Darto ini seperti ingin menyindir masalah-masalah persepakbolaan Indonesia yang kini penuh dengan campur tangan beberapa pihak. Di sisi lain, tidak dipungkiri sepak bola masih dianggap sebagai salah satu alat pemicu nasionalisme di negeri ini. Hal ini juga terlihat di awal film ketika menampilkan pertandingan sepak bola zaman dulu sampai kekalahan tim nasional Indonesia di piala AFF dengan Malaysia. Masyarakat pun menyatukan suara dan semangat untuk tetap mendukung Indonesia.
Kembali ke film, dua tokoh Hasan dan Darto ini membantu menguatkan karakter Wahyu yang masih nampak datar dan tidak dominan. Wahyu mungkin memang tidak digambarkan sebagai sosok yang ekspresif atau jenaka seperti kedua temannya yang diperankan oleh Jodi Onsu dan Joshua Suherman. Namun, tokoh Wahyu justru menonjol akibat munculnya karakter-karakter lain yang menguatkan sosok Wahyu itu sendiri.
Adegan Wahyu yang menangis akibat vonis kaki kanannya makin terasa emosional saat Darto berusaha menenangkan sekaligus ikut marah lewat kata-katanya yang menyalahkan sistim politik dan sepak bola Indonesia. Adegan tersebut melibatkan Wahyu, Darto dan ibu Wahyu pada tiga tempat berbeda namun mereka semua merasakan kepedihan yang sama. Selain itu, adegan Wahyu-Darto-Hasan yang berkelahi di depan warung kopi lapangan Karangsari juga memanas lewat dialog-dialog Darto dan Wahyu. Kembali emosi penonton dipancing lewat amarah Darto dan pernyataan tulus Wahyu tentang keinginannya membahagiakan sang ayah. Boleh diakui, dialog antar tokoh inilah yang menjadi salah satu kekuatan film yang cukup membuat mengharubiru.
Terlepas dari dialog-dialog yang memorable, beberapa detail adegan nampaknya luput dari perhatian. Kaki kanan Wahyu divonis osgoodschlatter, namun ketika Wahyu tumbang saat main bola di Karangsari, ia terlihat memegang kaki kirinya. Di adegan berikutnya ia baru memegang kaki kanannya. Film yang kental unsur Jawa Timur ini seperti ingin masuk sampai logat para pemainnya. Sayangnya logat Maudy Ayunda justru terkesan dipaksakan. Terasa perbedaan signifikan dengan Melly atau Wahyu sendiri.
Lepas dari semua itu, Tendangan merupakan salah satu film yang menyenangkan ditonton di musim libur Lebaran ini. Unsur lokal yang kental lewat lokasi dan dialognya, nuansa sepak bola yang penuh pesan nasionalisme sekaligus ajang jualan para pemain naturalisasi yang sedap dipandang mata. Meskipun Bachdim dan Kurniawan dipajang sebagai ‘dagangan’ utama film ini, bagi saya dua bule abg itu tidak membuat ingin menatap mereka lebih lama, atau mendengar mereka berdialog dalam bahasa Indonesia barang sepatah dua patah kata. Tidak perlu produk impor untuk membuat film ini enak dipandang dan didengar. Cukup memandang indahnya lereng Bromo, mendengar celetukan nyeleneh khas Sujiwo Tejo maka lengkaplah film ini untuk bisa nendang bagi penikmat film tanpa perlu menjadi pecinta sepak bola.


Pesan Tersirat : Film yang bercerita tentang rasa nasionalisme
sumber artikel : cinemapoetica.com

Check
Read More … Tendangan Dari Langit
 

Free Blog Templates

Blog Tricks

Easy Blog Tricks

bukan blog koruptor

perangi korupsi
dari dirimu sendiri
©  Grunge Theme Copyright by Paguyuban NASIONALIS Kab Malang | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks