Rasa Benci Merugikan Diri Sendiri

Orang yang membenci sebenarnya menciptakan belenggu untuk dirinya sendiri. Dengan tangannya, ia membawa kemana-mana sebuah gada yang siap dipukulkan kepada orang yang dimusuhinya. Seluruh daya hidupnya dihabiskan untuk menjaga gada itu dan mengawasi kalau-kalau musuhnya datang. Orang itu sudah tidak punya tenaga lagi untuk menikmati hidup yang santai, mencinta orang lain atau memperhatikan dirinya sendiri. Tenaga dan kemampuannya untuk berbuat kebaikan sudah terbelenggu. Kalau suatu saat ia terpeleset dan jatuh, tidak cukup tangan juga untuk berpegangan. Ia menjadi seperti orang cacat yang melakukan segala-galanya hanya dengan tangan satu. Itulah sebabnya, orang yang membenci sulit untuk merasakan kebahagiaan.

Sebelum kamu benar-benar dilumpuhkan oleh kebencian dalam hatimu, mulai saat ini belajarlah bersabar dan memaafkan. Hidupmu akan terasa lebih ceria dan ringan.
Read More … Rasa Benci Merugikan Diri Sendiri

Si Pemungut Gabah

Di sebuah kampung hidup seorang wanita tua yang menjadi bahan pembicaraan orang banyak. Dia bukan pengemis atau orang miskin. Sawahnya luas dan anak-anaknya pun telah menjadi orang yang berhasil. Hanya saja ia mempunyai kebiasaan aneh. Kemana pun ia pergi, asal ada gabah berceceran di tanah ia segera membungkuk dan memungutinya. Kadang-kadang ia menggunakan sapu, namun biasanya ia hanya menggunakan tangannya saja untuk mengumpulkan gabah-gabah yang ditemuinya.
Orang-orang mulai menduga-duga. "Dia itu wanita yang gila kekayaan. Padinya sendiri utuh. Ia cukup makan dengan gabah-gabah yang dipungutinya."
Dugaan demi dugaan terus berkembang. Yang paling dasyat adalah tuduhan bahwa ia memelihara sejenis tuyul yang memaksanya melakukan pekerjaan itu, sebagai syarat supaya menjadi kaya.
Ibu itu tidak pernah memberi penjelasan, sehingga tidak seorang pun tahu persis arti tindakannya. Ketika ajalnya hampir datang, ia mengumpulkan semua anak cucunya. Kepada mereka, ia menerangkan arti kebiasaannya itu.
"Sepiring nasi yang kita makan berasal dari butiran-butiran padi, yang ditumbuk menjadi beras dan dimasak menjadi nasi. Tidak pernah ada sepiring nasi tanpa butiran-butiran gabah itu." Hidupnya menjadi kesaksian bahwa sepiring nasi tidak lebih penting dari pada sebutir gabah yang dipungut dengan tangannya.
Hidup juga terdiri dari unsur-unsur kecil yang terpadu menjadi satu. Bila kita ingin hidup yang memuaskan, hidup yang baik dan berbahagia, jangan lupakan butir-butir gabah itu. Kita harus tlaten memungutinya setiap hari.
 
Pesan Tersirat : Kita biasa terpaku pada sepiring nasi dan melupakan butir-butirannya.
Read More … Si Pemungut Gabah

Lebih Baik Menanam













Setelah menebang pohon rambutan kebanggaannya, Pak Hamid menjadi seperti orang linglung. Pohon rambutan itu, baru saja berbuah lebat sekali. Buah pertama. la sudah berceritera kepada para tetangganya, pohon itu adalah pohon rambutan yang paling cepat menghasilkan buah dari semua pohon rambutan yang pernah ditanamnya. Buahnya manis dan betui-betul ace.

Orang-orang termasuk anak-anak mulai tertarik memperhatikan pohon itu. Namun kebanggaan Pak Hamid tidak berlangsung lama.
Ketertarikan anak-anak berubah menjadi keinginan untuk ikut mendcipi buahnya. Asal Pak Hamid lalai sedikit menjaganya, anak-anak segera berebutan memanjat atau melemparinya dengan batu. Dasar anak-anak. Mereka tidak peduli apakah batu itu akhirnya nyasar ke genteng atau malah mengenai teman mereka sendiri. Pak Hamid bertambah jengkel. Kalau mau minta, sebetulnya ia rela memberikan satu dua buah untuk dicicipi, namun belum pernah ada yang terang-terangan minta. Mereka mencuri. Kejengkelan Pak Hamid memuncak ketika hanya dalam satu malam saja, pada waktu itu ia dan anak istrinya pergi ke rumah famili, seluruh buah rambutannya habis dicuri orang. Padahal dia sudah menetapkan tanggal panennya, termasuk rencana untuk membagi-bagikan buah itu kepada para tetangga.

Pohon rambutan kebanggaan telah menimbulkan godaan untuk mencuri. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain menurut Pak Hamid kecuali menebangnya. Dari pada ia sendiri kecewa dan orang-orang di kampung itu berubah menjadi pencuri, lebih baik baginya kehilangan pohon rambutan.
Masih seperti orang linglung, Pak Hamid tiba-tiba meninggalkan kapaknya dan membiarkan pohon itu rebah begitu saja. Ia mulai memunguti biji-biji rambutan yang dibiarkan para pencuri berceceran di tanah. Para tetangga diam-diam memperhatikannya. Kemudian, ia menyiapkan sebidang tanah dan menanam secara teratur biji-biji itu.
Sebulan berselang, biji yang ditanam sudah berubah menjadi pohon-pohon kecil. Ia mulai menanamnya pada kebun belakangnya yang luas. Puluhan pohon. Para tetangganya pun mulai tertarik. Pak Hamid memberikan tiga pohon kecil kepada siapapun yang berminat untuk ditanam di kebun mereka sendiri. Ia sendiri menanam pohon rambutan pada setiap tanah desa yang kosong: pinggiran-pinggiran jalan, dan halaman balai desa. Bukan hanya menanam, dengan tekun ia memperhatikan dan menyirami pohon-pohon itu.
Orang-orang sudah melupakan Pak Hamid ketika beberapa tahun kemudian kampung itu dipenuhi pohon rambutan yang
serempak menghasilkan buah. Ada yang buahnya manis dan ace, ada juga yang kecut dan tidak ace. Pak Hamid merasa puas. Tidak ada lagi orang-orang yang berusaha mencuri rambutan. Semua orang sudah mempunyai pohon rambutan sendiri, dan anak-anak dapat memetik rambutan di tepi-tepi jalan.

Kandungan Pesan : Ternyata lebih baik menanam dari pada menebang.
Read More … Lebih Baik Menanam

Kamu bukan Dewa

 
... ucapkan pelan-pelan ungkapan ini: aku bukan dewa.

Ya. Kamu memang bukan dewa. Karenanya kamu bisa melakukan kesalahan, bertindak bodoh, ceroboh atau terjerat oleh perasaan tertentu.

Kamu perlu sering mengucapkan kata-kata ini ketika sendirian atau sedang bercermin. Bukan untuk menghibur diri tanpa arti, tetapi untuk mensugesti diri ke arah 'menerima diri secara wajar'.

Sering kita berani memaklumi dan memaafkan orang lain, persis dengan awal kalimat yang sama ini: kamu bukan dewa! Sayang terhadap diri sendiri kita lupa untuk menerapkannya. Akibatnya ruang bawah sadar kita dipenuhi dengan bertumpuk-tumpuk rasa bersalah, penyesalan, atau bahkan kutukan terhadap diri sendiri.

Untuk apa menyimpan aneka kotoran itu? Sebagian besar karena ketidaktahuan. Masalah-masalah, pikiran atau perasaan yang tidak diselesaikan dengan tuntas akan mengendap ke dasar kesadaran kita. Belum hilang hanya tertimbun saja.

Karenanya, selesaikan sedapat mungkin semua hal yang tidak sehat dalam hidupmu. Sadari saja bahwa kamu bukan dewa. Bisa salah, tetapi karena kamu bukan dewa maka tidak ditakdirkan untuk tetap salah. Ingatlah: kamu bukan DEWA PEMARAH, DEWA PENCEMBURU, DEWA SALAH LANGKAH, atau DEWA KEBODOHAN. Kamu manusia, bisa keliru dan bisa mempebaikinya ... ! Tul ngga?

Sumber : http://marahputih.blogspot.com/2008/12/kamu-bukan-dewa.html
Read More … Kamu bukan Dewa

BLOG AKTIF

BLOG yang aktif Klik sambut hari ini dengan senyum dan doa agar esok menjadi lebih baik, maaf jika ini menggangguH2OFACEBOOK

FRIENDSTER

Read More … BLOG AKTIF
 

Free Blog Templates

Blog Tricks

Easy Blog Tricks

bukan blog koruptor

perangi korupsi
dari dirimu sendiri
©  Grunge Theme Copyright by Paguyuban NASIONALIS Kab Malang | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks