

Oleh: Set Wahedi *)
SOEKARNO merupakan sosok yang inspiratif. Sepak terjangnya sebagai politisi, bukan produk karbitan. Sejak kecil, Soekarno sudah memiliki karakter pemimpin. Dia pemberani. Suka memanjat pohon. Berulang kali dia pernah jatuh, dan berulang pula dia bangkit.
Kenangan di atas, diungkapkan Peter A. Rohi, direktur Soekarno Institut, dalam diskusi "Mengurai Gagasan Soekarno dan Iwan Fals tentang Orang Indonesia" yang diselenggarakan Badan Pengurus Kota Orang Indonesia Surabaya (BPK OI) di kafe Elbow (5/6) lalu.
Lebih jauh, pria paruh baya dengan rambut dikuncir di belakang ini menambahkan, "Gagasan marhaen yang diusung Soekarno, juga tidak lahir begitu saja. Soekarno, semasa kecilnya, sudah suka main di sawah. Tubuhnya penuh Lumpur. Di masa dewasanya, Soekarno memiliki teman petani. Wagiman, namanya. Soekarno memiliki kesan yang kuat pada Wagiman ini. Beliau berkata, meski Wagiman dan rumahnya compang-camping, tapi hatinya sungguh penuh berkat".
Kenangan serupa juga diungkapkan Muhaji. Dia ini menegaskan kembali, bahwa revolusi belum selesai. Kita masih jauh dari harapan untuk mengisi taman di seberang jembatan emas kemerderkaan. Selain pentingnya revolusi, yang lebih ditekankan pada pentingnya perubahan ke arah yang lebih baik.
Eks aktivis 98, ini juga mengingatkan kita akan hilangnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bernegara dan berbangsa di negeri ini. Terutama para elite politik.
"Masih banyak keputusan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Pemerintah hanya bisa membagi-bagikan uang, tapi tidak bisa memberdayakan masyarakat. Masyarakat hanya disuruh memproduksi. Sedang produksi mau diapakan, pemerintah kebingungan. Pemerintah belum sepenuhnya memahami lima sila Pancasila. Terutama keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Banyak kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat," tandasnya.
Kalau Soekarno dikenal sebagai pemimpin yang berani, penuh inspiratif, lewat ide, gaya kepemimpinannya dan kedaulatan politiknya, Iwan Fals dikagumi karena suara kritisnya. Lagu-lagu Iwan Fals telah menjadi api semangat bagi sebagian besar masyarakat. Setiap konsernya selalu dipenuhi penonton. Mulai dari mahasiswa, karyawan, buruh, tukang becak, preman, maling, copet, pengamen dan jenis lainnya.
"Lagu-lagu Iwan Fals tidak hanya kritis. Tapi memiliki aura yang menggetarkan jiwa. Lagu-lagu tak hanya sekadar mengutuk. Tapi juga berbicara kemanusiaan," urai Zainul, anggota organisasi massa Iwan Fals, Orang Indonesia Surabaya.
Lebih lanjut, tentang Iwan Fals dan kehidupan berbangsa-bernegara, guru musik ini menegaskan, bahwa lagu-lagu Iwan Fals, coba mengawal jalannya pemerintahan. Menyuarakan berbagai bentuk kelaliman. Serta menentang dan mengutuk segala ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan.
Tapi satu hal yang perlu digarisbawahi, Soekarno dan Iwan Fals 'besar' bukan karena citranya. Mereka besar karena ide, dan keberaniannya. Ide untuk memikirkan nasib negara, bangsa, dan kemanusiaan. Berani untuk mengatakan tidak pada segala bentuk ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan.
"Soekarno adalah pemimpin masa. Dan Iwan Fals adalah penyanyi masa. Keduanya sama-sama besar dan penuh inspiratif. Hanya ruang dan waktu mereka yang berbeda," pungkas Peter A. Rohi di penghujung acara. (*)
*) Pegiat di dbuku bibliopolis)
Sumber : http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v03/index.php?mod=berita&id=4412
Pesan Tersirat :Memperjuangkan masyarakat dapat dilakukan dari niatnya, karena yang lain adalah cara mencapai
Check
Kenangan di atas, diungkapkan Peter A. Rohi, direktur Soekarno Institut, dalam diskusi "Mengurai Gagasan Soekarno dan Iwan Fals tentang Orang Indonesia" yang diselenggarakan Badan Pengurus Kota Orang Indonesia Surabaya (BPK OI) di kafe Elbow (5/6) lalu.
Lebih jauh, pria paruh baya dengan rambut dikuncir di belakang ini menambahkan, "Gagasan marhaen yang diusung Soekarno, juga tidak lahir begitu saja. Soekarno, semasa kecilnya, sudah suka main di sawah. Tubuhnya penuh Lumpur. Di masa dewasanya, Soekarno memiliki teman petani. Wagiman, namanya. Soekarno memiliki kesan yang kuat pada Wagiman ini. Beliau berkata, meski Wagiman dan rumahnya compang-camping, tapi hatinya sungguh penuh berkat".
Kenangan serupa juga diungkapkan Muhaji. Dia ini menegaskan kembali, bahwa revolusi belum selesai. Kita masih jauh dari harapan untuk mengisi taman di seberang jembatan emas kemerderkaan. Selain pentingnya revolusi, yang lebih ditekankan pada pentingnya perubahan ke arah yang lebih baik.
Eks aktivis 98, ini juga mengingatkan kita akan hilangnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bernegara dan berbangsa di negeri ini. Terutama para elite politik.
"Masih banyak keputusan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Pemerintah hanya bisa membagi-bagikan uang, tapi tidak bisa memberdayakan masyarakat. Masyarakat hanya disuruh memproduksi. Sedang produksi mau diapakan, pemerintah kebingungan. Pemerintah belum sepenuhnya memahami lima sila Pancasila. Terutama keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Banyak kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat," tandasnya.
Kalau Soekarno dikenal sebagai pemimpin yang berani, penuh inspiratif, lewat ide, gaya kepemimpinannya dan kedaulatan politiknya, Iwan Fals dikagumi karena suara kritisnya. Lagu-lagu Iwan Fals telah menjadi api semangat bagi sebagian besar masyarakat. Setiap konsernya selalu dipenuhi penonton. Mulai dari mahasiswa, karyawan, buruh, tukang becak, preman, maling, copet, pengamen dan jenis lainnya.
"Lagu-lagu Iwan Fals tidak hanya kritis. Tapi memiliki aura yang menggetarkan jiwa. Lagu-lagu tak hanya sekadar mengutuk. Tapi juga berbicara kemanusiaan," urai Zainul, anggota organisasi massa Iwan Fals, Orang Indonesia Surabaya.
Lebih lanjut, tentang Iwan Fals dan kehidupan berbangsa-bernegara, guru musik ini menegaskan, bahwa lagu-lagu Iwan Fals, coba mengawal jalannya pemerintahan. Menyuarakan berbagai bentuk kelaliman. Serta menentang dan mengutuk segala ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan.
Tapi satu hal yang perlu digarisbawahi, Soekarno dan Iwan Fals 'besar' bukan karena citranya. Mereka besar karena ide, dan keberaniannya. Ide untuk memikirkan nasib negara, bangsa, dan kemanusiaan. Berani untuk mengatakan tidak pada segala bentuk ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan.
"Soekarno adalah pemimpin masa. Dan Iwan Fals adalah penyanyi masa. Keduanya sama-sama besar dan penuh inspiratif. Hanya ruang dan waktu mereka yang berbeda," pungkas Peter A. Rohi di penghujung acara. (*)
*) Pegiat di dbuku bibliopolis)
Sumber : http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v03/index.php?mod=berita&id=4412
Pesan Tersirat :Memperjuangkan masyarakat dapat dilakukan dari niatnya, karena yang lain adalah cara mencapai
Check

0 komentar :
Post a Comment